Bagian Timur Cina

Kali ini saya akan membahas beberapa petualangan saya di bagian timur Cina. Saya akan mulai dari utara yaitu Datong di sebelah barat Beijing lalu menuju ke arah selatan. Tempat-tempat yang akan saya gambarkan tidak berdasarkan kronologis kunjungan saya, bahkan beberapa keterangan adalah hasil dari beberapa kunjungan. Pertimbangan saya adalah akan lebih mudah kalau tidak bolak-balik menggambarkannya.

Kami meninggalkan bandara SFO naik penerbangan Air China menuju Beijing dan sampai sana pukul 11:10 pagi.

Dengan taksi kecil kami menuju ke tujuan kami yaitu Dynasty Hotel. Dari namanya sepertinya hotelnya megah, tapi kami heran karena orang tidak ada yang pernah mendengar hotel itu. Akhirnya ketemu juga. Nama lengkapnya adalah Tian Lun Dynasty Hotel, tapi warga sekitar hanya menyebutnya Tian Lun Hotel. Pelajaran yang kami petik adalah selalu memakai nama lokal jika berkunjung ke manapun. Ternyata hotelnya cukup besar berbintang 4. Ada aula besar yang dikontrol suhunya dan ukurannya besar, hampir sebesar satu blok di kota. Suhunya sangat pas, karena suhu di luar masih panas dan lembab.

kanan: Aula besar berpendingin ruangan di Dynasty Hotel.

Kami bepergian bersama beberapa orang. Ada Mimi, Siong, dan Zimira yang bersama kami dalam perjalanan kami ke Cina sebelumnya. Ada tambahan lagi yaitu Anneke, Andrew dan Robyn. Orang-orang yang kami temui selama perjalanan cukup terkesan ketika mendengar Mimi, Siong dan Anneke orang Belanda, Zimira orang Swiss, Andrew dan Robyn dari Australia, dan kami dari Amerika. Dan Lily, pemandu wisata kami, tentunya dari Cina. Mimi bergelar PhD di bidang sejarah Cina, Robyn adalah perawat berijazah, dan Siong serta Andrew adalah dokter. Sungguh kumpulan orang yang menyenangkan dan beragam.

Datong

Datong, di provinsi Shanxi, terletak sekitar 225 km di sebelah barat Beijing. Tempat ini terkenal karena lokasinya dekat dengan gua Yungang yang berumur 1500 tahun, yang di dalamnya ada 50 ribu patung Budha dalam berbagai bentuk, warna, pose, dan ukuran. Tapi area ini juga punya kejutan-kejutan lain.

Kami tidak membawa sebagian besar bawaan kami, tapi hanya membawa bawaan kecil untuk perjalanan ini. Kereta lokal menuju Datong tidak begitu kondusif untuk wisatawan yang membawa koper besar. Tidak ada porter, dan Anda akan berdesak-desakan di lorong kereta bersama penumpang lain yang juga membawa bawaan banyak.

Kereta melaju lambat. Jarak hanya 382 kilometer ditempuh dalam waktu 7 jam 15 menit. DI awal perjalanan kami melewati pemandangan desa khas Cina, tapi setelah mencapai daerah bergunung, pemandangan berganti dan kereta pun melambat lagi. Ada banyak bunga matahari dan ladang jagung. Di kejauhan, terkadang kami melihat puing-puing atau tembok-tembok tanah liat dari kota tua. Bisa kami bayangkan pasukan Mongolia menyerang dataran ini pada zaman dahulu.

Kami sampai ke Datong jam 6:15 malam. Cuacanya cukup berangin dan kami dapat mencium bau batubara di atmosfir. Temperaturnya tidak begitu dingin, hanya 20 an derajat Selsius, tapi kami kedinginan karena pakaian kami lebih cocok untuk udara gerah di Beijing. Kami menginap di Yungang Hotel, beralamat di Jalan Yinbin Timur no 21. Kami bermakan malam di hotel agar dapat segera tidur.

Datong yang dahulu bernama Ping Chen memiliki populasi 900 ribu orang dan merupakan kota terbesar kedua di provinsi Shanxi. Menurut pemandu wisata, Datong adalah markas kecil dari pasukan kekaisaran pada masa kekuasaan Liu Bang dari dinasti Han. Datong adalah ibu kota di zaman dinasti Wei Utara, dinasti Liao dan dinasti Jin. Pada periode perang antar negara tahun 475-221 sebelum masehi, Datong adalah bagian dari kerajaan Zhou. Raja paling termashur di periode ini adalah Zhou Wu Ling Wang, yang melakukan reformasi di banyak hal untuk memajukan negaranya. Dia jugalah yang memulai pembangunan bagian awal Tembok Besar Cina.

Dua produk utama Datong batubara dan kentang. Kentang dibudidayakan di semua area Datong dan dengan uang 1 yuan (atau 1 RMB) Anda mendapatkan 2,5 kg kentang. Sebagai perbandingan, Anda harus mengeluarkan 1,60 RMB untuk 0,5 kg beras. Seorang juru masak yang handal bisa memasak kentang dalam 60 cara. Makan siang di Hui Yeh Hsien, misalnya, memiliki setidaknya 6 sajian kentang yang berbeda.

Batubara ada di mana-mana di Datong, sampai-sampai hidung sudah tidak asing lagi dengan baunya yang menyengat. Ada begitu banyak tambang batubara. Kebanyakan batubara ini adalah atrasit grade tinggi dengan nilai kalorifik lebih dari 6000kCal/kg. Lapisan batubara sangat dangkal, hanya 60 – 400 meter di bawah permukaan. Jadi batubara bisa ditemukan hanya dengan menggali sedikit, maka tambang batubara pun telah ditemukan. Penambangan batubara baru dimulai sejak 200 tahun lalu dan polusi udara sekarang sudah sangat buru. Bahkan burung-burung pun berwarna hitam, tertutup jelaga batubara, padahal warna bulu aslinya bukan hitam. Jelaga menutupi semuanya, dan tidak terbasuh air karena curah hujan sangat rendah yaitu 300-600 mm per tahun.

Sekitar 25-30% penduduk usia kerja terlibat langsung dengan pekerjaan terkait industri batubara. Penyakit paru-paru cukup banyak ditemui. Angka harapan hidup adalah 54 tahun. Untuk menghadapi hal ini, penambang lokal minum banyak bir lokal, “bir penambang batubara.”

Esok paginya, kami menikmati sarapan lezat di hotel berupa empat jenis bubur kaldu dan bakpau serta santapan lezat lainnya. Selama kunjungan kami, sarapannya selalu enak, kecuali ketika hotel ingin memberi kejutan kepada kami dengan menghidangkan sarapan Barat, yang harganya lebih mahal dan rasanya pun tidak enak.

Yingxian.

Dengan minibus kami melaju ke selatan untuk melihat Pagoda kayu segi delapan dari abad 11 yang berlokasi di Yingxian. Perjalanan 75 km ini memakan 2 jam. Bangunan aslinya tidak memakai paku logam sama sekali dan konon pagoda ini yang terbesar di dunia. Beberapa abad terakhir bagian-bagiannya telah diperbaiki dan diperkuat memakai paku serta pengait logam. Pagoda ini memiliki 9 lantai dan bertinggi 67 meter, tetapi hanya 5 lantai yang terlihat dari luar. Jika memasuki dan menaiki tangga yang sangat curam, akan terlihat bahwa sebenarnya ada 4 lantai lagi.

Di lantai utama terletak patung tanah liat raksasa Sakyamuni Buddha dan beberapa patung kecil Buddha. Yang menarik, ekspresi wajahnya agak berbeda dari patung Buddha Han yang biasa. Dapat terlihat jelas pengaruh suku minoritas di area ini. Di lantai-lantai atas juga ada beberapa patung Buddha.

kiri: Pagoda Kayu segi delapan dari abad 11

Dari lantai-lantai atas terlihat pemandangan kota dan daerah sekeliling pagoda ini. Menurut catatan sejarah, orang dapat memandang sejauh 60 km dari lantai teratas, tapi sekarang pandangan mata terbatas gara-gara kabut. Sebagian besar bangunan di kota terbuat dari batu bata, dan warna dominannya adalah warna lumpur. Lumpur ada di mana-mana dan sehingga warna dominannya adalah monokrom coklat kekuningan. Bagian tembok kuno yang terbuat dari tanah masih bisa terlihat ketika melintasi kota.

Udaranya sejuk dengan angin semilir. Pakaian tebal kami tinggalkan di Beijing. Kami berjalan sebentar menyusuri jalan utama Yingxian dan bertemu dengan penduduk lokal. Ada pabrik sepatu juga, dimana sepatu-sepatu itu dibuat manual memakai tangan dari bahan kanvas hitam. Kemudian ditambahkan sol karet. Harga sepatunya sangat murah yaitu 8 RMB sepasang (14 ribu rupiah), tapi rombongan kami tidak membeli. Manajer pabrik cukup kecewa. Kami bilang padanya bahwa tidak ada yang salah dengan sepatu-sepatu mereka, cuma sepatu-sepatu itu agak berat untuk kami pakai, karena perjalanan kami masih panjang. Dia tidak puas dengan penjelasan kami. Setelah dipikir-pikir, mungkin kami seharusnya membeli beberapa dan kemudian “menelantarkannya” di hotel. Tapi di Cina para staf hotelnya jujur sehingga mereka akan mengingatkan apabila ada barang yang “terlantar” atau bahkan mengirimkannya ke tempat tujuan Anda berikutnya.

Hal yang menarik dari kota ini adalah gerbang-gerbang di depan rumah-rumah yang megah. Biasanya ada gerbang dengan dua tiang kayu tegak, dan ada roda-roda batu di permukaan tanah di dalam dan di dekat tiang-tiang itu. Jarak antara Roda-roda dan besarnya roda-roda mencerminkan status orang yang tinggal di rumah megah itu. Makin besar jarak antar roda dan makin besar diameter roda, makin tinggi statusnya. Tradisi ini diperkenalkan di zaman dinasti Sung dan makin populer di zaman dinasti berikut yaitu dinasti Ming. Roda-roda batu ini dinamakan Hu Due.

Kami kembali ke minibus dan menuju ke Hui Yeh Hsien untuk makan siang. Santapannya mewah dan banyak macam, saya hitung 20 jenis sajian. Setelah kenyang kami memutuskan jalan-jalan di jalan utama desa dan memandang warung-warung di sepanjang jalan yang menjual bermacam-macam barang. Kebanyakan barang jualan adalah buatan lokal dan finishingnya agak kasar. Setidaknya barang-barang tersebut bukan barang yang diproduksi masal yang lazim dijumpai di tempat-tempat wisata lain. Ada meja bilyar di sisi jalan, dan ada beberapa orang bermain setelah membayar sewa meja. Mungkin jarang terjadi hujan di sini. Bilyar di Cina nampaknya cukup digemari.

Biara Gantung Xuankong

Biara Gantung Xuankong di Cina. Biara ini menempel di tebing dengan ketinggian beberapa ratus meter. Di latar depan terlihat warung-warung barang lokal.

Tak berapa lama kami kembali ke bus untuk menuju Biara Gantung Xuankong, salah satu biara Budha yang paling menakjubkan di Cina.

Biara megah ini dibangun di atas tebing sebuah ngarai, tepatnya ngarai Jin Long yang mengalir melewati pegunungan Hengsheng. Ngarai-ngarai ini memiliki sejarah yang panjang karena menjadi jalur yang dilewati prajurit kekaisaran selama berabad-abad. Melalui jalur ini jugalah para penjarah dari utara menyerbu daerah-daerah subur Cina.

Biara ini berasal dari zaman dinasti Wei Utara, lebih dari 1400 tahun lalu. Dibangun di sepanjang tebing berongga yang ditopang oleh tiang-tiang kayu vertikal. Balok-balok horizontal disisipkan ke bebatuan untuk membentuk pondasinya. Isi biara ini adalah satu ruangan dangkal yang dihubungkan oleh saluran-saluran sempit. Ini bukan tempat untuk mereka yang nyalinya ciut, karena dari ruangan ini pemandangannya adalah jurang dimana-mana.

kiri: Banyak dari papan kayu vertikal masih menjadi bagian dari penopang dan merupakan bagian dari bangunan asli berumur 1400 tahun.

Ruangan-ruangan berisi patung-patung Budha terbuat dari tanah liat dan batu. Salah satu ruangan berisi jajaran patung Sakyamuni Budha, Lao Tze dan Confucius. Beberapa tahun ke depan mungkin akses akan dibatasi karena bahaya terhadap pengunjung dan karena kerusakan bangunan. Di Amerika, akses ke bangunan sejenis ini sudah pasti tidak diperbolehkan karena terlalu beresiko.

 

 

Biara Gantung Xuankong, China.

Dari tempat parkir, kami menuju biara melalui sebuah danau yang di sepanjangnya banyak warung yang menjual oleh-oleh. Seolah-olah setengah penduduk China mencari nafkah berjualan oleh-oleh. Setengahnya lagi mungkin memproduksinya dalam jumlah besar. Orang China banyak bepergian di negeri mereka sendiri dan kebanyakan wisatawan di sini adalah orang China sendiri.

kanan: Pemandangan biara dari bangunan tinggi.

Dalam perjalanan pulang menuju Datong, kami menyempatkan ke pegunungan untuk menemui penghuni gua. Ya, orang-orang di sini masih tinggal di gua. Gua yang kami kunjungi ternyata cukup terang, karena hanya sebagiannya saja tertelan gunung, sedangkan sebagian lainnya menjorok ke luar. Ada sambungan listrik untuk lampu dan TV. Wanita penghuni rumah juga membuat kerajinan tangan dan dia merayu kami untuk membelinya.

 

Di daerah sini pula kami menjumpai orang-orang yang bekerja di pinggir jalan. Mereka memasukkan kepingan-kepingan batu kapur dan batu bara ke dalam sebuah lubang besar untuk membuat semen. Semua prosesnya masih manual.

kiri: Hunian gua di dekat Datong.

Kami bersantap malam di salah satu restoran termahal di Datong. Saya hitung ada 19 sajian, termasuk ikan segar yang mahal karena Datong jauh dari laut. Tapi secara keseluruhan kami menikmati makan malam kami. Di luar, ada orang sedang berkaraoke. Seorang pengusaha lokal menyediakan monitor TV, VCR, dan perangkat karaoke. Sambil menunggu konsumen, monitor akan menampilkan penyanyi profesional. Cukup membayar 2 yuan, Anda bisa bernyanyi memakai mikrofon dan suara Anda akan masuk ke pengeras suara. Ada banyak sekali orang yang mengantri untuk berkaraoke atau sekedar menonton saja. Mungkin suatu hari nanti seorang produser musik akan melihat Anda bernyanyi dan Anda akan jadi terkenal.

Gua Yungang

Keesokan paginya kami mengunjungi gua-gua Yungang, sekitar 16 km sebelah barat Datong, dan merupakan atraksi utama di daerah ini. Untuk mencapainya kami harus melintasi area pertambangan batubara yang sangat besar, bahkan terbesar di Asia. Hal ini tidak baik bagi masa depan gua. Gua-gua ini letaknya di tebing sebelah selatan pegunungan Wuzhoushan. Bagian dari gua Yungan, China.

Plafon berhias di dalam salah satu gua.

Di dalamnya 250 gua di sana ada sekitar 50 ribu. Gua-gua memanjang 1 km dari Timur ke Barat. Dinamakan Yungang karena Yungan adalah bagian tertinggi dari batu pasir Wuzhoushan. Letaknya di sepanjang lembah utara sungai Wuzhoushan. Gua-gua ini telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan Budaya Dunia.

Kebanyakan gua-gua itu digali di zaman dinasti Wei Utara antara 460 sampai 494 Masehi. Proyek pengerjaan berhenti ketika Kaisar Xiao Wen Di memindahkan ibukota dari Dato ke Luoyang pada tahun 494 Masehi. Saat itulah pengerjaan di gua-gua di Luoyang mulai meningkat. Dinasti Liao yang meyerbu dari Utara melakukan perbaikan dan pemugaran pada abad 11 dan 12. Perbaikan dan pewarnaan dilakukan juga di zaman dinasti Qing. Gua-gua Yungan adalah salah satu dari tiga pusat kesenian bebatuan pahat di China. Dua yang lainnya adalah gua-gua Dunhuang di provinsi Gansu dan gua-gua Longmen di Luoyang di provinsi Henan.

kiri: Satu patung raksasa Budha di gua Yungan. Patung yang lebih kecil di bawah patung besar ukurannya adalah sebesar orang.

Beberapa pengaruh asing dapat terlihat di patung-patung tersebut. Ada dewa-dewa India yaitu Wisnu dan Shiva; ada banyak Bodhisattva, naga, dan bidadari lengkap dengan sayapnya. Beberapa patung Budha ukurannya sangat besar, 20 sampai 30 meter tingginya. Gua-gua itu ada yang terpisah, ada yang berdempetan. Gua 1 sampai 4 adalah gua-gua pertama. Gua 5 dan 6 adalah yang paling utuh. Gua 6 mengandung pagoda dua lantai yang kaya pahatan yang menggambarkan kehidupan Budha. Digambarkan ibunda Budha yang tengah hamil, kelahiran Budha dari ketiak kanannya. Kisah hidup Budha digambarkan sepanjang dekorasi dinding gua sampai Budha mencapai nirwana.

Warna yang paling dominan adalah merah. Warna-warna lainnya adalah kuning, biru, dan hijau. Kebanyakan patung Budha yang dipajang adalah patung Budha Maitreya, yaitu Budha masa depan. Di banyak bagian gua ada rongga-rongga, yang tadinya ada isi patungnya namun sudah diambil atau dicuri dan banyak darinya yang sekarang dipajang di museum-museum di Eropa dan Amerika. Setidaknya, patung-patung itu lebih mudah diakses di museum daripada di gua.
Patung-patung Budha di gua-gua Yungan, China

Patung Budha di gua 16 sebagian terpapar udara. Patung Budha yang paling sering difoto adalah yang ada di gua 20. Di sini, patungnya hampir seluruhnya terpapar udara. Patungnya sangat besar, dan dilihat dari ciri-cirinya seperti bukan dari China. Mungkin juga patung dibuat agar mirip dengan kaisar dan kemiripannya itu disengaja agar sang emperor terlihat simpatik dengan tujuan Budha. Beberapa patung yang besar memiliki mata kaca.

kanan: Dinding dipenuhi patung-patung Budha. Ada banyak rongga kosong yang dulunya ada patungnya namun telah dicuri dan menjadi koleksi museum di seluruh dunia

Setelah tengah hari kami mengunjungi biara Huayan, tempat tenang yang tertutup dinding di sebelah barat kota tua, tepat di tengah kota yang ramai. Tidak ada tempat parkir di dkeat jadi kami terpaksa berjalan 1 kilometer melalui kota untuk mencapainya. Biara aslinya adalah berasal dari tahun 1038 Masehi dan dibangun kembali tahun 1140 saat masa kekuasaan kaisar Tianyuan dari dinasti Jin. Dinasti Jin adalah dinasti minoritas. Ada kelenteng atas dan kelenteng bawah. Kelenteng atas saat itu sedang dipugar tapi kami bisa mengunjungi kelenteng bawah. Di Aula Mahariva, yang merupakan aula utama dan merupakan salah satu aula Budha terbesar di China, terdapat lima patung Budha emas yang berasal dari dinasti Ming. Kelima patung itu duduk di atas singgasana teratai. Plafonnya berhias indah dengan lukisan berwarna-warni dari dinasti Ming dan dinasti Qing.

kiri: Lukisan di dinding gua yang cantik. Beberapa dekade ke depan, lukisan-lukisan ini bisa hilang oleh karena debu batubara yang tebal di sekitar sini.

Di aula lain di kelenteng bawah ada 29 (32 menurut pemandu wisata) patung Budha dari tanah liat yang diwarnai, dan kesemuanya memiliki ekspresi wajah yang berbeda-beda. Tiga patung terbesar adalah Amitabha (Budha masa lalu), Sakyamuni (Budha masa sekarang), dan Maitreya, Budha masa depan. Semua bangunan besar di kelenteng ini menghadap ke timur, oleh karena adat orang Qi Dan yang menyembah matahari.

Tembok Sembilan Naga

Kemudian kami menuju Jiu Long Bi, atau Tembok Sembilan Naga. Relief di tembok ini terbuat dari ubin-ubin keramik kecil. Tembok tingginya 8,2 meter, panjang 45,5 meter, dan tebal 2 meter. Kegiatan yang kami lakukan adalah memandang kolam kecil yang bening tepat di hadapan tembok, dan Anda dapat melihat pantulan naga-naga yang bergerak oleh karena hembusan angin yang menerpa kolam.

Menikmati Sembilan Naga di Tembok

Tembok ini dipindahkan sepotong demi sepotong sejauh 28 meter dari lokasi aslinya atas pertimbangan dekat dengan jalan utama. Tembok Sembilan Naga dibangun tahun 1392 yaitu tahun ke 25 kekuasaan kaisar Hong Wu dari dinasti Ming. Ditempatkan di depan istana dari anak 13 dari kaisar Taizu ini. Kaisar Taizu mengirimkan Hong Wu untuk memimpin pasukan kota untuk melindungi bangsa dari serangan pasukan dari Utara. Usaha ini sia-sia, karena para penyerbu mengepung dan memporak-porandakan kota. Mereka juga menghancurkan istana. Mungkin kaisar Hong Wu bernasib malang karena ia anak ke tigabelas. Namun, para penyerbu tidak menyentuh Tembok Sembilan Naga. Dua tembok serupa di China ada di Beijing, yaitu satu di Taman Beihai dan satu lagi di Kota Terlarang.

Tempat terakhir yang kami kunjungi hari itu adalah Kelenteng Shanhua, yang merupakan kelenteng bergaya klasik dari zaman dinasti Tang. Lokasinya ada di selatan Datong di bawah tembok-tembok kota tua. Shanhua pertama kali dibangun di zaman kekuasaan Kaiyuan (713-741 Masehi), mengalami kebakaran pada akhir dinasti Liao, dibangun kembali tahun 1128 di zaman kaisar Tianhui dari dinasti Kin, dan diperbaiki lagi di zaman dinasti Ming. Pengunjungnya hanya ada sedikit. Di Taman Barat ada tembok naga versi kecil. Yang ini hanya punya lima naga. Terlihat tak terurus, banyak rumput, karena orang lebih tertarik melihat sembilan naga daripada lima naga.

Terdapat juga patung banteng yang terbuat dari logam di taman. Pemandu bilang bahwa patung itu untuk memperingati sebuah patung banteng yang dahulu ada di ujung timur kota itu. Diletakkan di sana untuk mengusir banjir, karena air sungai biasanya naik di musim semi. Menurut versi lain, patung itu adalah untuk memperingati seseorang yang bernama “banteng” yang gugur saat menghalau banjir.

Kami makan malam di ruangan khusus di hotel dan setelah makan kami disuguhi hiburan penari lokal yang tampil di panggung kecil di ujung ruang makan. Ada penari yang sangat cantik, langsing, centil, bermata hitam, berbulu mata panjang, berambut panjang halus, dan mungkin berasal dari suku minoritas setempat yaitu suku Qi Dan. Di akhir pertunjukan dia melemparkan gelangnya ke penonton dan Andrew berhasil menangkapnya. Penari itu menatapnya dengan pandangan menggoda, tetapi Andrew tidak menanggapi. Dia akan menyesalinya.

Kami naik kereta malam dari Datong kembali ke Beijing. Kereta berangkat 11:20 malam. Seperti biasa, satu kompartemen untuk empat orang. Di kompartemen kami bersama Andrew dan Robyn. Siong bersama dengan tiga wanita, sehingga dia harus menjaga sikap.

Kami sampai di Beijing jam 6:15 keesokan paginya. Tidak ada kemacetan karena kami langsung menuju Hotel Tianlin Dynasty untuk mandi dan sarapan. Mungkin pembaca berpikir kenapa kami tidak naik pesawat ke Datong. Jawabannya adalah pada saat itu tidak ada penerbangan komersial ke Datong. (Foto: dok. www.travelswithhok.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here