III: Anchorage

1. Anchorage

Kereta berhenti di stasiun dan kami transfer ke bus yang mengantarkan kami ke Hotel Cook di pusat kota Anchorage lebih tepatnya beralamat di 939 W 5th Ave, yang terdiri dari tiga bangunan. 12 tahun lalu kami juga menginap di hotel ini, tapi sekarang telah direnovasi dan diberi nama baru, dan lingkungan sekitar telah mengalami pembangunan. Kamar-kamar hotel masih tetap kecil, dan bunyi pendingin ruangan masih cukup mengganggu. 12 tahun yang lalu tidak ada pendingin ruangan, tetapi pemanasan global memaksa hotel memakai AC untuk mendinginkan hawa panas di musim panas.

Malam harinya kami mencari udara segar dan memutuskan makan malam di Sullivan’s Steakhouse di 5th avenue, beberapa blok dari hotel. Tempatnya penuh, tetapi kami masih dapat meja bar dan berbagai satu hidangan utama yang sangat besar. Pelayan kami adalah wanita asal Slovenia. Dia bekerja di sini selama musim panas bersama dengan beberapa kompatriotnya. Tidak ada pelayan dari Meksiko. Makanan di sini lezat dan atmosfirnya bagus.

2. The Alaska Wildlife Conservation

Setelah sarapan, kami naik bus menuju Alaska Wildlife Conservation. Di sini adalah tempat konservasi hewan yang tidak lagi dapat bertahan hidup di alam liar.

kiri: Beruang coklat berlalu lalang di kandang terbuka di komplek konservasi.

Binatang ini terlihat cukup sehat meskipun tidak hidup di alam bebas. Mungkin karena kandangnya luas dan terbuka. Selain beruang, ada juga moose, llama, dan burung-burung pemangsa.

kanan: Beberapa ekor llama, terlihat lusuh.

Saat berangsur-angsur anginnya membesar, kami jadi tidak merasa nyaman lagi di luar, sehingga kami meninggalkan area.

3. Whittier dan “Star Princess”

Dari area konservasi, ada bus yang mengantar kami ke Whittier untuk naik kapal kami, yaitu Star Princess. Whittier Bay adalah teluk kecil yang dikelilingi oleh pegunungan yang puncaknya tertutup salju. Teluk ini bisa dimasuki lewat saluran yang sempit (hanya selebar satu kendaraan). Lalu-lintas satu arah ini berganti arah tiap jam. Cuaca sangat bersahabat, cerah dan hanya sedikit berawan.

Di kapal, kami mendapat kamar no E319 di geladak Emerald (8), yang pemandangan lautnya sedikit terhalangi. Tetapi view-nya masih lumayan, karena kabin kami di antara dua sekoci. Kapten kapal berasal dari Italia, yang agak mengingatkan kami pada tragedi kapal “Costa Concordia”, tetapi untungnya nama kapten kami bukan Francesco Schettino. Kapal kami bernama Star Princess, berkapasitas 2600 penumpang tapi tidak terlalu penuh pada perjalanan kali ini.

Tidak berlama-lama, begitu naik kapal kami langsung menuju Horizon Court Buffet untuk makan siang yang sudah sore.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here