IV: Persinggahan

1. Seattle

Memang, Seattle bukan bagian Alaska, tapi kami singgah di Seattle selama beberapa jam di sela penerbangan ke Fairbanks dari San Francisco. Dan kami memanfaatkan peluang ini untuk sekali lagi mengunjungi Pameran Taman dan Kaca Chihuly. Saya telah berkali-kali datang ke pameran yang diselenggarakan Chihuly, yang pertama adalah Museum de Young di San Francisco. Tetapi karya-karya Dale Chihuly yang terbuat dari kaca ini selalu membuat saya kagum oleh karena keindahan dan keterampilan pembuatannya. Karya Chihuly dipamerkan di lebih dari 200 koleksi museum di seluruh dunia. Dia telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk 12 gelar doktor kehormatan dan dua fellowship dari National Endowment for the Arts.

Tidak susah untuk menuju ke pameran Taman dan Kaca Chihuly dari bandara Seattle. Ada light rail LINK yang akan mengantar Anda ke Pusat Kota tanpa harus kena macet. Saran saya adalah membeli tiket sepanjang hari seharga $15. Kami turun di Westlake Center, dan di lantai 2 ada monorail menuju pameran Chihuly. Di dekat situ juga ada banyak tempat menarik untuk dikunjungi, termasuk menara Seattle Space Needle, yang berjarak sekitar 10 menit jalan kaki atau dengan monorail. Anda bisa membeli karcis gabungan ke Pameran Chihuly dan Space Needle untuk menghemat beberapa dolar.

kanan: Perahu kaca karya Chihuly.

kiri: Menara Seattle Space Needle. Tampak di depan ada “pohon” gelas Chihuly berwarna ungu, terletak di taman gedung pameran tak jauh dari Space Needle.

Space Needle didirikan untuk acara World Fair tahun 1962 dan pada saat itu merupakan bangunan tertinggi yang ada di barat sungai Mississippi. Menara ini tingginya 184 meter. Ada dek observasi di ketinggian 175 meter. Saat kami di sana, sedang ada renovasi. Menara ini sudah berumur 50 tahun lebih dan sudah menunjukkan tanda-tanda usia yang tak muda lagi.

2. Skagway

Skagway adalah persinggahan populer untuk kapal pesiar, dan kami juga mampir di sini tahun 2007. Kali ini kami ikut wisata “Rasakan Pengalaman Yukon dan Jembatan Gantung Yukon”, dan seingat saya daerah kunjungannya sama dengan yang saya kunjungi sebelumnya dengan kerata. Tapi pada tur kali ini, kami naik bus dan ada beberapa hal lain yang kami lihat. (SGY-170, $129.95.) Kami beruntung mendapat supir sekaligus pemandu yang bisa menjelaskan dan yang suka bergurau.

Skagway adalah kota kecil yang hanya memiliki 900 penduduk tetap. Di sini tidak ada dokter gigi, tidak ada apotek, tidak ada dokter, hanya ada perawat. Walmart terdekat ada di Whitehorse, jaraknya 240 km dari sini. Terkadang ada 5 kapal pesiar yang berlabuh sekaligus di Skagway. Masing-masing kapal berpenumpang ribuan, sehingga memenuhi kota kecil ini dengan kegaduhan tetapi juga sumber penghasilan. Skagway ramai di siang hari dan sunyi senyap di malam hari saat turis pergi. Saya kaget ternyata banyak toko perhiasan, yang tentu saja mengincar konsumen dari kalangan penumpang pesiar yang eksklusif.

Seperti kota perbatasan lain yang masih aktif, Skagway memiliki sejarah yang sangat penuh warna. Bangunan-bangunan yang di masa lalu menjadi tempat bisnis “wanita penghibur” sekarang telah dibuka untuk turis. Rhonda berkomentar bahwa harganya belum berubah. Sekarang, tarifnya $10 untuk kunjungan 20 menit, 100 tahun lalu juga $10 untuk kunjungan 20 menit. Konon, ada banyak hantu di Skagway. Setidaknya ada 5 bangunan di mana orang pernah melihat penampakan hantu. Salah satu hantu ternama adalah Mary, seorang gadis cantik, yang dahulu kala berjalan ke Skagway untuk menemui tunangannya yang kembali dari tambang emas. Tetapi tunangannya tidak pernah datang. Hantu Mary masih setia menunggu sampai sekarang. Mary bermalam di Kamar 23 Hotel Golden North dan meninggal karena radang paru-paru. Arwahnya sering menampakkan diri kepada pelayan dan staf maintenance hotel. Ada seorang tamu hotel yang meminta difoto dan kemudian saat film nya diproses, di fotonya ada penampakan gadis muda tepat di sebelahnya. Rumah berhantu lain di Skagway adalah Red Onion Salon, bekas tempat wanita penghibur. Di sini, arwah penghuninya adalah Lydia, yang penampakannya telah berkali-kali terlihat.

Menuju Interior Alaska, kami ambil jalan darat yaitu Klondike Highway dari Skagway. Daerah ini sangat sangat dingin di musim dingin, dengan suhu mencapai minus 1 derajat selsius. Penyebab hawa dingin ini adalah kiriman salju dari kutub utara yang bisa menutupi jalan-jalan hingga setinggi 9 meter. Skagway adalah tempat yang dilewati (naik kuda ataupun jalan kaki) para pemburu emas yang akan ke Kanada pada saat demam emas dulu. Saat itu belum ada jalan aspal ataupun rel kereta api. Sekarang sudah enak, tinggal naik bus. Dari Skagway kami melewati Jalan Raya Klondike sepanjang 45 km menuju Jembatan Gantung Yukon.

Menurut cerita, yang menemukan emas di Alaska adalah Putri Kate dari suku Athabascan. Sang putri sedang bepergian dengan suaminya, George Washington Carmack, seorang kulit putih pemburu emas. George Washington mencari emas bersama saudara laki-laki putri Kate, Skookum Jim dan mitranya Dawson Charlie. Nama asli putri Kate adalah Shaaw Tláa. Mereka mendadak kaya, tapi kemudian George mengkhianati putri dan kabur dengan membawa emasnya ke Seattle bersama putri mereka Graphie Grace. Putri Kate menggugat ke pengadilan, tetapi pengadilan memutuskan bahwa sebagai wanita Kate tidak memiliki hak secara hukum terhadap uang bagiannya. George kemudian berhubungan dengan Margery, seorang wanita penghibur yang licik, yang menguras semua uang George dan lalu mencampakkannya. George meninggal dalam keadaan miskin di Vancouver tahun 1922.

bawah: Jembatan Gantung Yukon. Bangunan besar di latar belakang adalah Restoran Cliff Side. Tampak di sebelah kiri bangunan ada area parkir yang biasanya penuh bus wisata.

Jembatan ini memiliki panjang 60 meter dan menggantung setinggi 20 meter di atas arus deras Sungai Tutshi. Saat Anda berjalan di atasnya akan terasa sedikit goyangan, terutama kalau ada orang iseng yang loncat-loncat di jembatan. Untuk yang berani dan nekat, ada wisata arung jeram di sungai ini, di mana Anda dijamin akan basah. Di sebelah kanan sungai ada rumah-rumah kayu bergaya perbatasan.

Dari jembatan gantung Yukon, kami meneruskan ke Carcross, yang pernah menjadi tujuan pertama para pemburu emas dalam perjalanan mereka menuju ladang-ladang emas. Kala itu, antara 1896 dan 1899, pencari emas diharuskan oleh pihak berwenang Kanada untuk membawa persediaan yang banyak agar tidak kelaparan. Banyak dari mereka harus menggendong barang persediaan mereka, tapi yang kaya tentu saja memakai kuda.

Carcross adalah tujuan pertama mereka. Di sinilah mereka akan melanjutkan perjalanan dengan perahu mengikuti sungai Yukon menuju Klondike, yang merupakan ladang emas pada saat itu.

Sekarang sudah gampang pergi ke Carcross dari Skagway. Ada jalan raya, yang kami lewati, dan ada juga kereta yang menghubungkan kedua tempat ini.

kiri: Para petambang bersiap naik perahu di Carcross sekitar tahun 1897 untuk berlayar ke Dawson City. Ibu yang ada di depan ke sini telat 120 tahun.

Tujuan para prospektor emas ini adalah Dawson City, di titik pertemuan sungai Klondike dan Yukon. Hanya dalam rentang dua tahun, jumlah penduduk Dawson City meningkat dari 500 menjadi 30 ribu.

Hari ini, tujuan akhir kami adalah Carcross. Sebenarnya kami sedikit melewati Carcross untuk melihat pemandangan Danau Bennett. Danau Bennett permukaannya berwarna-warni, dengan latar belakang pegunungan yang puncaknya tertutup salju.

kanan: Danau Bennett. Permukaannya yang berwarna-warni sangat sedap dipandang mata.

 

 

 

kiri: Dan ini adalah Gurun Carcross, gurun pasir terkecil di dunia.

Luas gurun ini hanyalah sekitar 1.5 km persegi. Daerah ini jauh lebih kering dibanding daerah sekitar, disebabkan oleh efek “bayangan hujan” oleh pegunungan di sekitarnya. Karena memang gurun, ada beberapa spesies tanaman langka yang dapat ditemukan di lingkungan kering ini.

Kami makan siang di resor setempat, berupa ayam berkekyu yang lezat (karena kami memang sudah sangat lapar), kentang rebus, dilanjutkan dengan donat buatan setempat. Resor ini juga memiliki kereta yang ditarik anjing. Sebagai wisatawan, Anda dapat naik kereta yang ditarik anjing mengelilingi sirkuit. Anjing-anjing ini suka sekali menarik kereta, terlihat dari kegirangan mereka saat pemilik memilih mereka sebagai penarik. Anjing adalah makhluk cerdas dan tiap anjing penarik tahu tugas yang dipercayakan pada mereka. Anjing di barisan terdepan adalah pemimpinnya, merekalah yang menentukan laju kereta. Tetapi anjing yang ada di barisan ke tiga tahu bahwa mereka tidak boleh sekedar ikut garis lurus pimpinan saat akan belok. Mereka tahu harus melebar sedikit agar kereta tidak terbalik.

kanan: Kereta anjing modifikasi untuk tumpangan wisatawan.

Selain itu, di sana ada Llama, tapi hanya untuk dipandang, bukan ditunggang.

kanan: Llama di resor. Binatang yang cantik. Mungkin karena tugas mereka hanyalah bersolek di depan kamera.

kiri: Di pusat kota ada panggung kayu, lengkap dengan bangunan-bangunan dan tiang-tiang totem suku Tlingit dan suku Tagish.

Kami sengaja agak berlama-lama di Carcross, yang semula bernama Caribou Crossing. Menurut sensus 2016, populasi kota ini adalah 301 penduduk, jauh lebih kecil dari masa keemasannya.

Memang, saat kami di sana, kota itu terasa sepi. Di tegah kota ada Layanan Informasi Wisatawan dan sebuah tempat terbuka yang nampaknya sebuah museum yang lengkap dengan bangunan-bangunan dan tiang-tiang totem dari dua suku asli Amerika yaitu suku Tlingit dan Tagish.

Stasiun kereta letaknya tidak jauh dari sini. Rute kereta datang dari Skagway.

kanan: Dan ini adalah Gereja St. Saviour yang tak begitu megah di Carcross.

Gereja St. Saviour adalah gereja Anglikan, didirikan tahun 1901. Bangunan aslinya yang ada di foto ini dibangun tahun 1904 di seberang sungai dan hanyut ke lokasinya yang sekarang pada tahun 1917.

kanan: Pemandangan Pulau Bove. Spektakuler.

Di jalan pulang menuju kapal, kami melewati Pulau Bove. Di sini, seorang pria bernama Don Mack bermimpi tentang seorang wanita yang memperkenalkan diri sebagai Edith Williams dari Syracuse, New York. Sang wanita memperingatkan Don Mack agar tidak meneruskan perjalanannya esok hari.

Don Mack sangat terpengaruh mimpi ini sampai-sampai dia tidak mau meneruskan perjalanan bersama teman-temannya keesokan harinya. Beberapa hari kemudian, Don Mack mendapat kabar bahwa mereka telah tenggelam karena kereta mereka meretakkan es tipis yang menutupi sebuah danau dan mereka pun tenggelam. Setelah bertanya-tanya kesana-kemari, dia akhirnya menemukan bahwa memang ada wanita bernama Edith Williams dari Syracuse, New York. Tetapi, wanita itu menyangkal ada sangkut pautnya dengan mimpi Don Mack tersebut. Sayang sekali, padahal cerita ini bisa menjadi sebuah novel romantis.

Kembali ke Skagway, kami memutuskan untuk berjalan melalui Broadway, jalan utama di Skagway. Kami tidak lupa mampir di Skagway Brewing Company untuk menikmati bir. Gambar di bawah adalah Skagway, lengkap dengan pemandangan kapal pesiar yang berlabuh di belakang. Di sebelah kiri ada Smart Shuttle bus berwarna putih, yang memiliki rute tetap mengelilingi kota. Tarifnya adalah $3 per perjalanan, jauh ataupun dekat.

bawah: Jalan utama di Skagway.

3. Ketchikan

Kebanyakan kapal pesiar singgah di Ketchikan sebelum meneruskan perjalanan “panjang” ke Victoria ataupun Vancouver. Kami mampir di Ketchikan di dalam 2 perjalanan pesiar kami ke Alaska sebelumnya, dan saya sudah menceritakan dengan cukup jelas tentang Totem Bight Park di blog-blog saya sebelumnya.

a. Totem Bight State Park

Kami turun dari kapal tepat di tengah kota, di seberang Biro Wisata Ketchikan. Kantor informasi yang berada tepat di jalan itu mengatakan bahwa ada halte bus beberapa blok dari jalan utama yaitu Front Street. Dari halte itu kami bisa menuju ke Totem Bight State Park. Bus yang kami naiki kali ini lebih besar dari sebelumnya, dan di bus ini kursinya dipasang penghangat. Mungkin karena hawanya dingin. Tetapi tarifnya masih sama yaitu $2 per perjalanan, dan hanya menerima uang pas. Bus berangkat dua kali dalam satu jam.

kanan: Clan House yang ada di Totem Bight State Park.

Tarif masuk Totem Bight State Park adalah $5 per orang. Di dalamnya ada jalan kayu sepanjang sekitar 1 km yang melewati tiang-tiang totem dan rumah adat (clan house) yang dipajang.

b. Jalan Creek

kiri: Bangunan-bangunan di jalan Creek, tahun 2018. Di kiri atas terlihat Penginapan Cape Fox.

Bangunan besar berwarna hijau di sebelah kanan pernah dipakai sebagai rumah bordil. Tiket masuknya adalah $10 per orang untuk kunjungan selama 20 menit. Cukup murah! Harga masuk ini sama dengan 100 tahun lalu. Tanpa bangunan ini, lingkungan sekitar mungkin akan sepi karena sekarang sudah menjamur toko-toko wisata di tempat-tempat lain di kota ini.

Tetapi sekarang di sini ada kereta kabel (funicular), yang mengantar kami ke penginapan Cape Fox dengan tarif $3 sekali jalan. Tidak terlihat ada petugas kasir, padahal kereta kabel cukup ramai orang yang ingin ke penginapan, jadi wisatawan banyak yang tidak bayar.

Kemudian, kami mampir minum di restoran, dan dari sini Anda bisa menikmati pemandangan area pelabuhan.

kanan: Pemandangan pelabuhan dari penginapan Cape Fox. Terlihat kapal pesiar Star Princess.

Tidak lupa kami berjalan-jalan di daerah sekitar dan mengunjungi toko-toko wisatawan dan berusaha agar tidak tergiur beli ini beli itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here