Gunung Fuji

Kami menempuh perjalanan yang panjang melewati pedesaan yang indah menuju Gunung Fuji, simbol negara Jepang. Kami berhenti di Mt. Fuji Visitor Center untuk menonton video sepanjang 10 menit. Tak ada yang istimewa di Center ini, tetapi seperti biasa, toiletnya bersih.

Ada 15 orang di grup kami, tidak satupun suka mengeluh. Memang, ada satu dari kami yang suka bercerita tentang pengalaman bepergiannya di masa lalu. Saya ingat betapa orang yang satu meja makan dengan dia tampak menderita. Saran saya, kalau Anda ingin berbagi pengalaman traveling, buatlah website seperti travelswithhok.com, jadi orang bisa mencari detail yang penting-penting saja.

Kami berkendara menuju Gunung Fuji sampai pos no. 5 pada ketinggian 2305 meter, yaitu ketinggian maksimal yang boleh ditempuh kendaraan. Ada kantor pos, restoran, dan kuil Shinto.

Suhu di puncak sangat dingin, bahkan saat musim panas suhunya jarang melebihi 5 derajat celcius. Sebenarnya ada sepuluh pos, pos pertama terletak di kaki gunung, dan pos ke 10 di puncak. Di ketinggian ada pondok-pondok gunung dimana Anda bisa membeli makanan dan minuman dan numpang tidur.

Untuk mencapai puncak setinggi 3776 mter, perlu jalan kaki 4 sampai 6 jam lagi. Jalurnya terbuka hanya pada musim panas, dari 1 Juli sampai 31 Agustus, 24 jam tiap hari.
kanan: Tori di kuil Shinto di kompleks pos ke 5. Puncak Gunung Fuji dapat terlihat di belakang.

Disarankan mendaki sampai ke pos ke 7 atau 8 di hari pertama, kemudian lanjutkan sampai ke puncak di dini hari kedua agar sempat melihat matahari terbit, yang dapat terbit jam 4:30 di musim panas. Ada juga yang mendaki sampai pos ke 5 jam 10 malam, kemudian langsung lanjut agar sampai puncak saat fajar. Kalau di China, mungkin akan ada porter yang menawarkan tunggangan ke puncak naik tandu. Karena ini Jepang, Anda harus berjalan sendiri.

Hakone

Hakone adalah tujuan wisata populer di Taman Nasional Fuji-Hakone. Di sana ada pemandian air panas, kecantikan alam dan pemandangan Gunung Fuji. Jaraknya kurang dari 100 km dari Tokyo. Pada sore hari kami akhirnya sampai di penginapan tradisional Jepang atau lebih dikenal dengan Ryokan. Ryokan Gora Asahi dibangun sebagai penginapan klasik, tapi sekarang dimodifikasi untuk kegunaan moderen.

Lepas sepatu di genken, sebuah area kecil setelah Anda memasuki ruangan, kemudian berjalan telanjang kaki di ruang keluarga sekaligus kamar tidur berukuran besar, sederhana dan beralas karpet tatami. Di malam hari, meja kayu rendah dipinggirkan dan futon digelar di atas karpet tatami untuk alas tidur. Ada yukata yang bisa kami pakai di kamar. Yukata hiasannya tidak sebanyak Kimono. Saat memakai yukata, patut diingat bahwa sisi kirinya berada di atas sisi kanannya, karena kalau sisi kanan di atas sisi kiri hanya untuk orang meninggal. Di kamar juga ada TV, lemari besi, dan toilet bergaya Eropa. Di kamar mandi disediakan sendal kayu sehingga Anda tidak telanjang kaki di toilet.

Salah satu kelebihan menginap di ryokan adalah makanan yang disediakan. Menginap di ryokan biasanya termasuk makan malam dan sarapan dan penginapan menyediakan makanan yang sangat lezat dan menggiurkan.
kiri: Makan malam di Gora Asahi Ryokan. Meja yang ditata cantik dengan hidangan pembuka makan malam.

Kelebihan lainnya adalah onsen, atau pemandian air panas umum. Kolamnya biasanya dipenuhi dengan air panas pegunungan yang bisa Anda pergunakan untuk rileks secara alami di hangatnya air bersuhu 40 derajat celsius. Ada tata cara yang harus Anda ikuti. Lepaskan semua pakaian Anda di kamar ganti, lalu pindah ke area mandi shower dan memakai sabun. Sesudah Anda bersih, masuklah ke kolam dan nikmatilah air panas yang sedikit berbau belerang, dimana Anda bisa bermeditasi atau kalau tidak berbincang kecil dengan pemandi lainnya. Sungguh pengalaman yang bikin rileks.

Untuk yang tahan dingin, ada juga kolam berair dingin untuk memberi Anda sengatan dingin yang menyegarkan. Di zaman dahulu, laki-laki dan perempuan berendam di kolam panas yang sama. Sekarang, mereka di pisah di dua area berbeda. Jalan masuk ke satu area adalah melalui gordyn merah, dan area yang lain gordyn biru. Satu area untuk pria, satu untuk wanita. Tapi areanya ganti tiap hari.

Hari berikutnya kami berjalan menuju Kereta Kabel Hakone Tozan dan bunga-bunga sakura sedang bermekaran.
kanan: Foto ini diambil tepat di luar ryokan.

Kami menyusuri rel kabel sejauh beberapa ratus meter. Di ujung rel, di atas bukit, di sebuah tempat bernama Sounzan, kami pindah naik Kereta Gantung Hakone menuju lembah Owakudani tinggi di atas gunung. Kami menikmati pemandangan Gunung Fuji dari kereta gantung ini.

Owakudani

Di Owakudani, yang merupakan area di sekitar kawah yang tercipta saat Gunung Hakone terakhir meletus sekitar 3000 tahun lalu, kami memutuskan berjalan mendekati untuk melihat dari dekat lubang uap dan lumpur panas di lereng gunung. Baunya agak menyengat dan ada banyak wisatawan. Anda bisa membeli telur ayam yang bisa Anda masak di kolam mendidih ini.

Hasilnya, warna telur hitam di luar, normal di dalam, berbau sulfur dan belerang, dan dijamin membawa hoki, atau sakit perut. Konon, mereka bisa memanjangkan umur Anda tujuh tahun. Anda dapat membayar 500 yen untuk 6 telur rebus yang sudah matang.
kanan: Telur rebus keras demi panjang umur.

 

kanan: Kolam lumpur mendidih di Owakudani dengan latar belakang Gunung Fuji.

Bus kami sudah menunggu saat kami kembali. Rupa-rupanya menuju ke sini bisa ditempuh dengan bus! Tetapi, naik kereta kabel dan kereta gantung tentu saja lebih romantis dan spektakuler.

Setelah beberapa kilometer turun gunung, kami sampai di stasiun kapal Togendai di Danau Ashi untuk tur kapal di danau. Kapalnya berwarna-warni bagaikan yang ada di film-film tentang bajak laut. Dengan ratusan wisatawan lain yang kebanyakan orang Jepang, kami berlayar menuju sisi lain danau.

Di sana, di sebuah kota kecil bernama Hakonemachi, di Hakone Hotel, kami makan siang mewah dengan menu-menu spesial khas Jepang. Demi makan siang mewah itu saja kami rela menempuh perjalanan itu. Benar-benar pengalaman kuliner yang mengesankan.
kiri: Kapal bajak laut ala Disneyland untuk berlayar di Danau Ashi.

Setelah makan siang yang melimpah tersebut, bus kami memutar menuju Hatajuka dengan tujuan toko kerajinan kayu. Daerah ini terkenal dengan teknik-teknik kerajinan kayunya yang istimewa. Di kota kecil inilah, pengrajin lokal Nihei Ishikawa (1790 – 1850) mengembangkan sebuah teknik Yosegi-zaiku yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di Jepang. Bermacam-macam kayu dipotong memanjang seperti tangkai dengan pola-pola melintang yang berbeda-beda bentuknya, bisa segitiga, bujur sangkar, persegi panjang, atau bahkan bersegi 5 atau 6. Kayu-kayu yang berbeda kemudian dilem jadi satu sedemikian rupa sehingga tidak ada celah di antara tangkai-tangkai. Ikatan-ikatan ini kemudian diiris tegak lurus dari arah membujur. Hasilnya adalah irisan-irisan tipis yang berwarna-warni yang sedap dipandang, yang kemudian dilem di kotak-kotak atau benda-benda kayu lainnya sebagai dekorasi parketri.

Produk khas lainnya adalah kotak kayu rahasia. Kotak-kotak ini dihiasi dengan cantik dengan desain parket dan di dalamnya ada lubang tempat menyimpan barang. Untuk membuka kotak, Anda harus menggeser bagian-bagiannya ke arah yang berbeda-beda dengan urutan tertentu agar bisa membuka penutup atasnya.

kanan: Desain parket yang cantik dari kotak kayu rahasia. Ada penggeser di dua tepi kotak.
Ada yang kotak baru bisa dibuka setelah 3, 7, 15 atau lebih langkah. Seperti terlihat dalam foto, kotak dengan desain parket yang indah ini memiliki penggeser horisontal di bagian depan dan belakang kotak.

Daerah setempat juga terkenal akan karya market-nya, dimana permukaan-permukaan kayu bertatahkan kayu dengan warna yang berbeda-beda untuk membuat gambar-gambar yang sedap dipandang.

Museum Terbuka Hakone

Dalam perjalanan pulang menuju ryokan kami, kami mampir ke Museum Terbuka Hakone. Di sini, di ruangan terbuka ini, ada koleksi ukiran-ukiran luar ruangan karya seniman-seniman terkenal dari seluruh dunia. Museum ini dibuka tahun 1969 sebagai museum terbuka di Jepang. Jangan sampai kelewatan mengunjunginya.
kiri: Ukiran di atas kolam ikan emas.

Ada ukiran luar ruangan karya Rodin, Moore, Miro, Maillol, Bourdelle, dan lain-lain. Ada bangunan khusus untuk karya-karya Picasso, dan karya-karya dalam ruangan oleh Brancussi, Giacometti dan lukisan-lukisan karya Renoir dan lain-lain.
kanan: Penari-penari pria (hitam) dan wanita (merah) yang menyusun pola geometris.

Medannya luas, sehingga wisatawan tidak berdesakan. Banyak dari pajangan-pajangan boleh disentuh bahkan boleh dimasuki, sehingga sangat bagus untuk kegiatan anak. Bahkan, ada area dimana Anda dapat merendam kaki Anda yang lelah di kali kecil dari sumber air panas mineral.

“Symphonic Sculpture” sangat menarik perhatian. Ia adalah bangunan yang tinggi dan membulat dengan dinding kaca dan timah. Setelah masuk ruangan ini dan memanjat tangga spiral (lihat gambar), Anda bisa melihat sinar-sinar berkilauan dan memantul dari dinding-dinding kaca.
kiri: Di dalam “Symphonic Sculpture”. (Foto: dok. Travelswithhok.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here