South Dakota terkenal sebagai rumah Mount Rushmore, tapi juga sedang mengupayakan pemahatan gunung megah kedua yang apabila selesai akan mengalahkan pahatan empat presiden di Mount Rushmore.

Pejuang Lakota bernama Crazy Horse telah lama menjadi figur yang kontroversial, jadi pantaslah tugu peringatannya kontroversial pula.

Meskipun ia lebih dikenal sebagai pejuang yang melawan George Armstrong Custer di Pertempuran di Little Big Horn, Crazy Horse juga telah memimpin sukunya melawan pendatang dan penambang di Dakota, Montana dan Wyoming dan tempat lain sebelum wafat tahun 1877 di Fort Robinson, Nebraska.

Tapi lupakanlah perannya yang kontroversial di dalam peperangan. Lupakanlah klaim yang menyebut dia belum pernah difoto. Lupakanlah kisah-kisah yang berlainan tentang akhir hidupnya. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: kapankah patung penghormatannya akan rampung?

Di pegunungan Black Hills, South Dakota, terdapat Crazy Horse Memorial sebagai penghormatan atas pahlawan perang Suku Asli Amerika. Ukuran patung adalah beberapa kali lebih besar dari Mount Rushmore dan akan menjadi pahatan gunung terbesar di dunia.

Itu kalau pengerjaannya selesai.

Meski proyek telah berjalan sejak 1948, patung ini jauh dari selesai, dan tidak perlu buru-buru karena memang tidak ada tenggat waktunya.

“Organisasi tidak sedang memperlambat atau menunda-nunda,” kata Patrick Dobbs, juru bicara Crazy Horse Memorial. “Ada proyek-proyek dan situasi-situasi yang tak diketahui yang di luar kendali yang mempengaruhi pengerjaannya.”

Dia menyebut dua faktor yang membuat pengerjaan berhenti yaitu cuaca yang tak bersahabat, termasuk hujan petir dan badai salju, dan kandungan besi di gunung, yang membuat batuannya lebih susah dipahat.

Belum lagi, patung direncanakan akan memiliki tinggi 172 meter, yaitu beberapa meter lebih tinggi dibanding Washington Monument.

Pembuat patung menolak bantuan

Faktor lainnya adalah pendanaan. Menurut Dobbs, patung Crazy Horse adalah proyek nirlaba dan didanai seluruhnya oleh uang masuk dan donasi.

“Ada tawaran-tawaran dari pejabat pemerintah dan pejabat dinas untuk mencari pendanaan,” kata Dobbs. “Namun, pemahat asal Polandia Korczak Ziolkowski menolaknya. Dia tidak percaya bahwa pemerintah akan menyelesaikan pahatan.”

Menurut Ziolkowski, pemerintah Amerika tidak dapat diandalkan saat membuat perjanjian. Ziolkowski sangat tidak suka dengan Perjanjian Fort Laramie 1868, yang menyerahkan Black Hills kepada suku Lakota tetapi mewajibkan anak-anak mereka untuk mengenyam “pendidikan Inggris.” Perjanjian ini juga tidak membahas hak-hak atas emas, yang menyebabkan konflik tahunan.

Pemerintah mengambil kembali Black Hills sembilan tahun kemudian, dan mulailah perlawanan di pengadilan yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad.

Dobbs bilang bahwa Ziolkowski juga tidak suka melihat ketidaksepakatan pemahat Mount Rushmore Gutzon Borglum dengan pejabat-pejabat federal atas pendanaan dan kendali terhadap monumen Amerika tersebut.

Meski faktor-faktor tersebut membuat Ziolkowski menolak bantuan pemerintah, perlu dicatat bahwa Rushmore dirampungkan hanya dalam 14 tahun.

The New York Times melaporkan bahwa penerimaan dari biaya masuk sebesar 3.8 juta dolar pada 2010, dan memorial menerima lebih dari 19 juta dolar dari donasi dalam 5 tahun sebelumnya.

Beberapa orang suku asli Amerika, termasuk keturunan Crazy Horse, meyakini bahwa dengan uang sebesar itu, monumen seharusnya sudah rampung.

Seth Big Crow, yang nenek buyutnya adalah bibi Crazy Horse, memiliki perasaan campur aduk tentang memorial ini. Di dalam wawancaranya dengan Voice of America, dia mengatakan bahwa monumen tersebut dapat berguna bagi generasi mendatang dan dapat menjadi versi Amerika dari patung-patung Easter Island.

“Mungkin 300 atau 400 tahun mendatang, semuanya akan lenyap, kita semua akan tidak ada lagi, dan akan ada empat wajah di sisi Black Hills dan patung di sana sebagai simbol suku asli Amerika yang dahulu pernah di sana,” kata Big Crow.

Patung Easter Island telah lama menjadi misteri dunia. Orang Polinesia kuno datang ke pulau itu dan membangun patung-patung dari batu gunung berapi. Menurut orang, patung-patung itu adalah penghormatan kepada dewa-dewa atau nenek moyang, tapi tidak ada yang tahu pasti arti dari patung-patung tersebut.

Patung Seumur Hidup

Ziolkowski mulai memahat monumen Crazy Horse tujuh tahun setelah rampungnya Rushmore.

Tuan Henry Standing Bear, ketua suku Lakota waktu itu, tidak suka dengan wajah raksasa empat orang Amerika terpajang di wilayah tanahnya, jadi dia meminta Ziolkowski untuk memahat sebuah monumen untuk mengenang seorang tokoh legendaris dari kalangan kaum Amerika Asli.

“Rekan-rekan sesama kepala suku dan saya ingin agar orang-orang kulit putih bahwa orang-orang kulit merah juga memiliki pahlawan-pahlawan legendaris,” tulis Standing Bear di suratnya untuk Ziolkowski pada tahun 1939.
Ziolkowski mengerjakan patung sampai saat dia meninggal tahun 1982 dalam usia 74 tahun. Dia berpesan sebelum meninggal agar istrinya Ruth dan 10 anaknya menyelesaikan patung tersebut. Ruth adalah presiden dan CEO dari Crazy Horse Memorial Foundation, dan tujuh dari sepuluh anaknya tetap terlibat dalam pengerjaannya sampai sekarang.

Tidak semua orang menganggap patung sebagai penghormatan.

Dalam wawancara dengan Voice of America, Elaine Quiver, keturunan lain dari Crazy Horse, mengatakan bahwa Standing Bear tidak memiliki hak untuk memesan monumen itu.

“Mereka tidak menghargai budaya kami karena kami tidak memberi izin orang untuk memahat Bukit Hitam yang suci tempat pemakaman leluhur kami,” kata Quiver. “Bukit-bukit itu ada untuk dinikmati dan untuk tempat berdoa tetapi bukan untuk dipahat. Ini salah. Semakin saya memikirkannya, semakin saya yakin bahwa ini penodaan terhadap budaya Indian kami. Tidak hanya Crazy Horse, tapi kami semua.”

Tim Giago, pendiri Native Sun News, yang berbasis di Rapid City tidak jauh dari sana, mengatakan pada The New York Times bahwa dia belum pernah menjumpai “satu orang Amerika Asli pun yang bilang ‘Aku bangga dengan gunung itu.'”

Ada juga perselisihan mengenai deskripsi wajah Crazy Horse. Banyak pakar mengatakan bahwa tidak ada satu pun potret Crazy Horse, sehingga memahat patung yang menyerupainya adalah hal bodoh.

Namun, menurut biografi oleh Crazy Horse Memorial, patung ini tidak dimaksudkan untuk menyerupai Crazy Horse, melainkan hanyalah mencerminkan semangat Crazy Horse.

Semakin Populer?

Dobbs mengakui bahwa “arti dari Crazy Horse Memorial dan reaksi terhadap monumennya berbeda-beda bagi orang-orang Amerika Asli”. Namun, dia merasakan bahwa persepsi terhadap gunung itu semakin positif.

“Kenaikan jumlah bendera suku untuk memorial itu menjadi 120 banner dari suku-suku Indian di Amerika dan Kanada menandakan semakin populernya Crazy Horse di kalangan luas,” kata Dobbs. “Besarnya minat untuk mengikuti program universitas musim panas juga indikator lain dukungan.”

Bendera-bendera suku dihadiahkan kepada memorial sebagai tanda hormat dari negara yang diwakili oleh bendera. Ia juga tanda dari “dukungan terus-menerus untuk proyek yang sedang berjalan ini,” kata Dobbs.

Wanda McFaggen dari suku Indian St. Croix Chippewa, yang mengirimkan bendera mereka untuk monumen Crazy Horse, memuji memorial atas nilai sejarahnya.
“Kami percaya bahwa pendidikan sangat penting untuk membantu komunitas non-asli untuk memahami siapa kami,” kata McFaggen, direktur departemen pelestarian sejarah suku tersebut. “Saya sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh keluarga Korczak Ziolkowski, dan kami berterima kasih atas perhatian mereka kepada kami semua suku bangsa Amerika Asli.”

Gunung tersebut juga memiliki atraksi-atraksi lain selain pahatan Crazy Horse yang “melestarikan” tradisi suku Amerika Asli, kata Dobbs.

Ada Indian Museum of North America, yang memiliki lebih dari 11,000 benda-benda sejarah dan kini dan karya-karya seni dari suku-suku yang berbeda. Ada juga Native American Educational and Cultural Center, yang memiliki koleksi cetakan-cetakan bersejarah, artifak-artifak daerah dalam jumlah banyak, dan stan-stan kegiatan. Ada pula Indian University of North America yang baru dibuka, yang bermitra dengan University of South Dakota dan menawarkan kuliah-kuliah tentang suku bangsa Amerika Asli.

Crazy Horse Memorial mengharapkan Indian University of North America akan terus berkembang sehingga mencakup sebuah pusat pelatihan medis, makin berkembangnya Indian Museum of North America dan majunya program-program pendidikannya untuk memperdalam pemahaman akan budaya-budaya Amerika Asli yang bermacam-macam.

Namun, Big Crow merasa bahwa dana yang dihabiskan untuk bangunan-bangunan ini sebaiknya dipergunakan untuk patung Crazy Horse.

Proyek yang tidak akan berakhir…’

Tetapi keluarga Ziolkowski selalu menginginkan proyek ini agar dikerjakan dengan telaten. Halaman web memorial ini terang-terangan menyatakan bahwa memorial ini “adalah proyek yang tidak akan berakhir, bahkan setelah pahatan di gunung itu selesai.”

Setelah 50 tahun, pahatan kepala Crazy Horse setinggi 27 meter pun selesai tahun 1998, dan sekarang sedang dilakukan untuk menyelesaikan patung kudanya, dengan tinggi 67 meter, menurut keluarga Ziolkowskis.

Jika selesai, monumen ini akan memiliki lebar 195 meter. Sebagai perbandingan, patung Mount Rushmore yang hanya berjarak 27 km darinya, memiliki empat kepala berukuran 18 meter, dan keempatnya akan muat di dalam satu kepala Crazy Horse.

Crazy Horse wafat setelah ditawan oleh prajurit-prajurit musuh. Kapan dan bagaimana persisnya dia meninggal tetap diperdebatkan. Bahkan, sebuah papan di jalan tol dekat Wounded Knee, South Dakota, menuliskan empat tempat yang mungkin menjadi kuburan Crazy Horse.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here