Bandara Narita terletak sekitar 61 km dari pusat kota Tokyo. Menariknya, tidak ada Shinkansen (kereta super cepat) dari bandara, tapi ada kereta-kereta lain yang dapat Anda naiki dari bandara ini. Angkutan bus juga efisien. Kami naik bus ke pusat kota cukup membayar $30. Tergantung lalu lintas dan jam, perlu sekitar 1 sampai 2 jam menuju tujuan Anda. Dari Cerulean Hotel, yang merupakan tujuan terakhir bus kami, kami naik taksi menuju hotel kami yaitu Mets Shibuya. Pohon-pohon sakura sedang berbunga, tapi telah cukup lama mengembang. Kalau tidak ada cuaca dingin beberapa minggu sebelumnya, mungkin kami akan kelewatan mekarnya sakura.

Hotel Mets adalah hotel bagus yang terletak di pusat kota di Shibuya. Rekan-rekan traveler kami dari Australia sudah sampai di sana. Cukup lama perjalanan dari Australia ke Jepang, karena tidak ada penerbangan langsung. Ruangan-ruangan di hotel kami tidak begitu besar, tapi cukup nyaman dan lega. Tarifnya adalah $180 per malam untuk double bed. Kursi toiletnya memiliki penghangat. Dengan memencet tombol, pancuran air hangat dapat membasuh bagian bawah. Ini higienis dan menghemat tisu toilet. Anda cuma harus ingat untuk berhenti memencet tombol saat berdiri kalau tidak mau celana Anda kebasahan. Kursi toilet ini cukup banyak dijumpai di seluruh Jepang dan bahkan di toilet-toilet umum.

Hari berikutnya kami bertemu dengan peserta-peserta lain dari grup wisata kami yang semuanya sudah siap untuk menikmati “Harta Karun Budaya Jepang”. Pemandu wisata kami bernaman Kyoko Hata yang sangat efisien dan peduli dan dia berusaha maksimal untuk memberi kami pengalaman terbaik selama kunjungan kami di Jepang. Seringkali, saya terpaksa harus memberi evaluasi “sangat bagus” untuk pemandu-pemandu wisata kami yang lain karena mereka meminta demikian agar bisa mempertahankan pekerjaan mereka. Kyoko adalah satu-satunya pemandu yang tidak meminta evaluasi sama sekali, dan satu-satunya yang berhak mendapat penilaian “sangat bagus”.

Tentu saja dibutuhkan waktu lama untuk menjelajahi kota sebesar Tokyo, padahal kami cuma di sana selama sehari. Kami mulai dari Gedung Pemerintah Daerah Tokyo. Dengan tinggi 243, gedung ini salah satu yang tertinggi di Tokyo. Sebuah lift mengantarkan kami ke lantai 45 untuk menikmati panorama kota. Pemandangan dari gedung tinggi di kota besar terlihat sama di manapun di dunia. Terlihat rumah-rumah, kadang agak samar oleh sebab polusi yang disebabkan manusia. Tetapi ada petak-petak putih tanda sakura.

Taman Timur Istana Kekaisaran

Perhentian kami selanjutnya adalah Gerbang Otemon yang menuju Taman Timur Istana Kekaisaran. Tempat ini tak seramai tempat-tempat lain di kompleks Istana.
kanan: Le Dejeuner sur l’Herbe di Taman Timur

Butuh 30 tahun untuk merampungkan istana ini dan sekarang ia terbuka untuk umum hanya di hari-hari tertentu. Keshogunan Tokugawa yang membangun kompleks ini berkuasa antara 1603 sampai 1868. Setelah itu, Periode Meiji dimulai dengan seorang kaisar sebagai pemimpin. Untungnya, Taman Timur terbuka untuk umum tiap hari.

Kuil Asakusa Kannon

Bus mengantar kami ke Kuil Asakusa Kannon yang selesai dibangun tahun 645 sehingga membuatnya kuil tertua di Tokyo. Juga dikenal dengan nama Kuil Sensoji. Menurut legenda, Sensoji dibangun di tempat di mana dua nelayan lokal dari abad 7 menemukan patung Kannon (Dewi Kasih kepercayaan Budha) di jaring mereka. Meski mereka mengembalikan patung ke sungai, patung selalu kembali ke jala mereka. Kannon adalah versi Jepang dari Kuan-Yin, y aitu Dewi Kasih orang China.
kiri: Gerbang Hozomon di Kuil Asakusa Kannon

Kaminarimon, atau Gerbang Dewa Petir, adalah jalan masuk utama ke Kompleks Kuil. Letaknya di kawasan sibuk tanpa ada tempat parkir. Jadi, kalau tidak naik angkutan umum, wisatawan masuk dari sisi, dimana bus-bus wisatawan parkir. Tetapi jika Anda masuk melalui Kaminarimon Anda akan melewati Nakamise, yaitu jalan tempat belanja sepanjang 200 meter yang penuh hiasan yang menjajakan cinderamata berupa kipas lipat, yukata (pakaian santai tradisional), kaos oblong, dan warung-warung yang menyuguhkan cemilan khas Jepang.
kanan: Jalan perbelanjaan Nakamise yang sibuk.

Kemudian Anda masuk lewat gerbang utama yaitu Hozomon. Di belakangnya, terdapat area kuil yang sebenarnya. Di depan kuil ini terdapat wadah besar untuk membakar dupa, dan pengunjung menempatkan dupa di sini. Asapnya tebal dan dipercaya memiliki daya sembuh. Jadi, pengunjung banyak yang berusaha “menangkap” asap dan menempelkannya ke bagian tubuh mereka yang dirasa perlu penyembuhan atau peremajaan, seperti di selangkangan kaki.

Ada tempat untuk membersihkan tangan dan berkumur sebelum memasuki kuil, dan kios-kios tanpa penjaga untuk meramal peruntungan Anda. Cukup memasukkan 100 yen, menggoyang-goyang wadah bambu sampai satu nomer keluar. Lalu lihatlah tembok yang terdapat puluhan laci kecil dan buka laci yang sesuai dengan nomer Anda.

Ada tumpukan lembaran kertas di laci. Ambil satu untuk membaca peruntungan Anda. Kalau Anda tidak suka yang Anda baca, gantung lembaran itu di rak agar tertiup angin, yang melambangkan nasib buruk Anda akan “tertiup angin” pula. Anda bisa mencoba lagi dan lama-kelamaan Anda akan mendapat ramalan yang Anda sukai. Dan kuil pun mendapatkan untung besar.
kiri: Mencari ramalan yang tepat.

Kuil itu sendiri berukuran besar dan penerangannya redup. Tembok belakang tertutup altar yang bersampul daun emas, gambar dewa-dewa, bunga-bunga teratai, dan simbol-simbol lain. Seperti di kuil-kuil lain, bau dupa memenuhi udaranya. Tempat ini tidak cocok bagi yang alergi bau dupa.

Shibuya 109

Bagi remaja penggila fashion, Shibuya 109 adalah tempat yang wajib dikunjungi. Sebuah toko di Shibuya menjual fashion terbaru untuk remaja putri.
Kesemuanya ingin menjadi yang terdepan untuk urusan fashion.
kanan: Fashion untuk gadis-gadis rupawan.

Kami juga melihat satu toko Shibuya 109 di Kanazawa

Kuil Shinto Meiji Jingu

Keesokan harinya kami mampir ke Meiji Jingu di Harajuku. Kuil Shinto ini didesikasikan untuk arwah Kaisar Meiji dan Permaisuri Shoken dan berlokasi di sebuah taman besar di Tokyo. Kaisar Meiji dianggap sebagai kaisar agung yang mengubah Jepang dari negara medieval ke moderen.

Dari ramainya kota, Anda berbelok dan tiba-tiba ada taman yang hening yang cocok untuk menenangkan diri. Taman ini besar dan memiliki setidaknya 170 ribu pohon. Saya tidak sempat menghitung. Salah satu yang terlihat pertama kali masuk adalah gerbang (Torii) besar menuju Kuil yang terbuat dari kayu cypress berumur 1700 tahun dari Taiwan.
kiri: Torii raksasa

Kami melewati tong-tong sake (nihonshu) dalam jumlah besar yang telah disumbangkan ke kuil.
kanan: Tong-tong sake di pintu masuk kuil.

Di kompleks kuil, ada beberapa pendeta Shinto yang sedang melayani. Orang mengunjungi kuil untuk beribadah. Jika Anda ingin mengikuti mereka, berikut tata tertib beribadah:

Bersihkan tangan Anda sebersih-bersihnya di bak yang ada di sisi pintu masuk. Tangan kanan dulu, baru tangan kiri. Dengan gayung, guyurkan air ke tangan kiri Anda dan dekatkan gayung ke mulut Anda dan berkumurlah, tapi jangan sampai mulut Anda menyentuh gayung. Basuh tangan kiri Anda, lalu basuh gayung.

Lalu berjalanlah dengan sopan ke kuil dan masukkan uang sumbangan ke kotak. Membungkuklah dengan dalam dua kali, tepuk tangan dua kali, dan bungkuk dalam sekali lagi.
kiri: Tempat bersuci di kuil.

Menepuk tangan diambil dari kisah penciptaan Amaterasu, dewi matahari menurut ajaran Shinto. Oleh karena tingkah polah saudara laki-lakinya, Amaterasu tidak tahan lagi dan bersembunyi di gua. Alhasil, dunia menjadi gelap dan lesu. Karena itu, dewa-dewa yang lain mencari akal untuk membuatnya keluar dari gua dengan menabuh genderang dan lonceng seolah-olah sedang ada pesta. Amaterasu ingin tahu dan melangkah keluar dari gua. Dan dunia pun terang lagi. Itulah asal mengapa bertepuk tangan di dalam kuil untuk menarik perhatian arwah untuk mendengar doa-doa para pemanjat doa.
kanan: Pendeta Shinto memasuki kuil lewat pintu masuk. Kuil utama terletak di sebelah kanan dan tidak nampak di gambar ini.

Banyak orang juga datang ke sini untuk menikah. Mereka mengenakan pakaian yang indah, biasanya pakaian tradisional Jepang.
kiri: Porsesi perkawinan di Kuil. Pendeta-pendeta Shinto di depan; rombongan pernikahan di belakang.

Selama satu jam kami menikmati keindahan dan keheningan taman dan kuil. Tiba-tiba sudah jam 10 pagi dan bus-bus wisata berdatangan. Banyak sekali. Serta-merta tempat ini bagaikan tempat sirkus. Wisatawan berdesak-desakan dan berfoto ria. Suasana pun menjadi gaduh, saking banyaknya turis. Ternyata di Jepang yang orang-orangnya sopan pun bisa begini. (Foto: dok. travelswithhok.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here