Anda pulang dari bepergian dan teman Anda bertanya: “Bagaimana liburanmu?”. Ini tentu saja hanyalah pertanyaan retoris. Percuma saja Anda menceritakan dengan panjang lebar, karena teman Anda sebenarnya tidak mau mendengarkan. Yang dia mau adalah Anda mendengarkan kisah perjalanan dia. Jadi, Anda memberi jawaban sekenanya saja.

Ya, perjalanannya menyenangkan. Ya, kami menikmatinya. Kami melihat dan mengalami banyak hal. Jepang negara yang bersih. Jalan-jalannya bebas sampah. Begitu pula keretanya, selokannya, tamannya, tempat umumnya, di mana-mana bersih. Argentina memang bersih, tapi Jepang lebih bersih, meski lebih sedikit tong sampah dan hampir tidak ada rambu-rambu peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Masyarakat membawa sampah mereka sendiri, di kantong celana yang dilapisi plastik khusus untuk tempat sampah. WC umumnya bersih karena dari kecil masyarakat sudah dididik untuk memakai WC dengan bersih.

Orang-orang Jepang berjalan memakai masker untuk menyaring debu dan kuman. Anda juga dapat mempraktekkannya. Saat udara panas, transportasi umum bebas dari bau badan tak enak. Jika ada bau tak enak, mungkin berasal dari turis Eropa. Turis Amerika masih sadar dan memakai sesuatu untuk menutupi bau badan mereka.

Jepang sangatlah rapi. Semuanya terletak di tempatnya. Mobil diparkir mundur, sekalipun ini lebih perlu usaha dibandingkan memarkir maju. Ini menunjukkan mental mereka. Anak sekolah SMA memakai seragam yang rapi. Di rumah mereka, mereka merapikan barang-barang sehingga tidak memenuhi pemandangan, sehingga rumah tampak minimalis dan rapi. Bahkan rumput pun terpotong rapi, kecuali di lingkungan di luar batas kota.

Jepang itu formal. Pria masih memakai setelah jas hitam ke mana-mana, bahkan saat cuacanya panas. Terakhir kali saya melihat semua orang memakai setelan jas hitam adalah 50 tahun lalu di pusat finansial di London. Wanita Jepang berbusana dengan baik, kadang mengenakan kimono. Jika Anda melihat pria memakai kemeja dan jeans kasual, kemungkinan mereka adalah turis. Jika mereka tampak gembel, maka bisa dipastikan mereka adalah turis.

Orang Jepang itu sopan. Pernah suatu ketika kami menjadi pengunjung pertama di department store dan para penjaga toko berbaris di samping kantor mereka dan membungkuk ke arah kami yang berjalan. Di kereta, Anda akan melihat pintu gerbong terbuka dan konduktor akan masuk. Dia akan membungkuk dahulu kepada penumpang di gerbong itu kemudian menyusuri gerbong untuk memeriksa tiket kita. Sebelum meninggalkan gerbong, dia akan berbalik dan membungkuk lagi. Pelayan yang mendorong kereta makanan di gerbong juga sama sopannya.

Jepang itu sangat fotogenik. Saya di Jepang per hari memotret dua kali lebih sering dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang pernah saya kunjungi. Objek saya adalah taman, bunga, dan arsitektur. Semua orang terpandang di Jepang memiliki taman yang mereka rawat dengan baik. Ada taman di mana-mana, di sebelah rumah, di dalam rumah, di dalam ruang kecil di restoran. Selain itu, bunga-bunga harganya terjangkau.

Jepang tampak makmur. Rumah-rumahnya dirawat dan dijaga dengan baik. Ada banyak rumah klasik Jepang. Orang Jepang selalu punya uang untuk makan di restoran, yang harga makanannya dua kali lebih mahal daripada di Amerika. Tidak ada pengemis ataupun peminta-minta. Penjaga toko tidak akan merayu Anda untuk masuk ke tokonya. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa hutang nasional Jepang 194% dari Produk Domestik Brutonya.

Bandingkan dengan Amerika, rumah-rumah di sana tidak begitu terlihat terawat. Dan di pagi hari Anda mungkin akan menjumpai orang-orang tuna wisma dan peminta-minta di kebanyakan kota besar di Amerika.

Jepang juga memiliki banyak sekali orang lanjut usia. Lebih dari 20% penduduk adalah manula, dan tren ini makin meningkat. Sebagai perbandingan, di Amerika, populasi umur 65 ke atas adalah 7%. Tiap kali kami membeli tiket entah ke museum atau acara lainnya, Andrew selalu bertanya apakah ada diskon untuk manula. Tidak ada diskon manula di Jepang, karena kalau ada, Jepang akan harus menanggung biaya yang banyak. Setengah wisatawan Jepang mungkin berumur lebih dari 65 tahun.

Jepang sangat padat, terutama di Tokyo. Dari segi wilayah, Jepang adalah negara terbesar ke 61 di dunia. Tapi dari segi jumlah penduduk, Jepang urutan 10. Pantas saja padat. Di Tokyo, 13 juta orang , atau sekitar 10% populasi total Jepang, berdesak-desakan di area sebesar 2200 kilometer persegi, atau sekitar 0.6% dari total wilayah Jepang. Banyak jalan-jalan layang sehingga Tokyo terlihat seperti kota dalam film sains fiksi. Ada rel kereta layang dan ada juga yang di bawah tanah. Di perlintasan Shibuya Ekimae Kosaten, 750 orang melewati perlintasan ini tiap harinya. Gambar berikut menunjukkan perlintasan ini pada pukul 10 malam. Dengan banyaknya orang, rumah-rumah pun banyak yang kecil dan sesak. Jika Anda ingin privasi, cobalah menginap di Love Hotel sebagai persinggahan privat sementara.

Yang padat tidak hanya Tokyo tetapi semua tujuan wisata di Jepang. Dan 90 – 95% wisatawan adalah orang Jepang sendiri, banyak di antara mereka anak sekolah yang sedang wisata belajar. Ada perbedaan yang mencolok antara tampilan brosur travel yang menunjukkan taman batu formal Zen Buddha yang diciptakan sebagai meditasi dan introspeksi dengan kenyataannya yang harus berdesak-desakan dengan ratusan wisatawan lain, dan semua dari mereka ingin mengambil foto taman tanpa kelihatan orangnya. Setidaknya orang-orang itu sopan dan tidak berbau badan.

(Sumber: TravelswithHok.com)

————————————————————————————————————————————-

Informasi mengenai Tur ini, Silakan kontak Worldlinks America, Los Angeles (La Habra): 562-691-1318 , San Francisco 415 242 8195 , Sales@WorldlinksAmerica.com.

Ingin mendapatkan Info Tur Terkini di Worldlinks America lewat Email atau WA, silakan daftar di www.TurDuniaGratis.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here