Dikelilingi oleh Istana Gyeongbokgung, Istana Changdeokgung, dan Kuil Jongmyo, Desa Bukchon Hanok adalah tempat bagi beratus-ratus hanok, rumah adat Korea, yang bermula dari Dinasti Joseon. Kini, banyak dari rumah-rumah ini beroperasi sebagai pusat kebudayaan, penginapan, restoran dan kedai-kedai teh, memberikan kesempatan untuk para pengunjung untuk mengalami, mempelajari, dan menenggelamkan diri dalam budaya tradisional Korea. Ikutlah selagi kami jelajahi struktur arsitektur tradisional wilayah ini dan gang-gang kecil memesona di antaranya.

Sejarah Singkat

Nama Bukchon secara langsung diterjemahkan menjadi “desa bagian utara,” dan telah diberikan kepada distrik tersebut karena berlokasi di utara dari dua tempat simbolis terkemuka di Seoul—Kali Cheonggyecheon dan area Jongno.

Menurut ajaran Kong Hu Cu dan pungsu, arau prinsip geomantis, Bukchon memiliki lokasi yang strategis. Berada di kaki selatan dari gunung yang menghubungkan gunung Baegak dan Eungbongsan, Bukchon dikelilingi oleh hutan-hutan lebat dan pemandangan-pemandangan indah.

Terdiri dari wilayah Wonseo-dong, Jae-dong, Gye-dong, Gahoe-dong, dan Insa-dong, Bukchon berakar dalam sebuah riwayat 600 tahun, berawal pada masa Joseon (1392-1897).

Karena jaraknya yang dekat dengan kedua istana utama kota, Bukchon aslinya dihuni oleh para pejabat negara dan keluarga mereka. Kebangsawanan berdiam di hanok, rumah-rumah tradisional yang dibangun dalam gaya arsitektur yang spesifik, dirancang untuk menjaga keseimbangan dengan topografi sekitar dan memang dikonstruksi secara general menggunakan elemen-elemen seperti genting melengkung panjang dan lantai ondol yang membantu menjaga rumah tetap hangat di musim dingin.

Pergantian Waktu

Di akhir Dinasti Joseon, tanah berskala besar ini terbagi menjadi beberapa tempat untuk bangunan-bangunan yang lebih kecil untuk tujuan sosial dan ekonomi, dengan sejumlah hanok dirobohkan dan dibangun kembali di sekitar tahun 1930. Perubahan bentuk hanok pada masa ini mencerminkan perluasan masyarakat yang berhubungan dengan urbanisasi pesat di saat itu.

Karena perubahan kemasyarakatan, rakyat jelata mulai mendiami wilayah ini, dan hanok menjadi terkait dengan keluarga berekonomi rendah, yang tidak mampu memiliki rumah yang lebih modern. Telah banyak yang dirobohkan dan ditinggalkan begitu saja saat masyarakat berduyun-duyun pindak ke kompleks apartemen bertingkat yang menjadikan Seoul seperti saat ini. Justru, banyak dari hanok di Bukchon dirobohkan untuk memberi ruang bagi bangunan-bangunan kantor dan perumahan modern, hingga belakangan ini.

Untungnya, upaya konservasi baru, termasuk legislasi yang ketat, telah diberlakukan untuk menjaga rumah-rumah hanok yang tersisa di wilayah tersebut, yang berjumlah sekitar 900 buah.

shutterstock_203591596_Bukchon Hanok Village 1Ketika Lama Bertemu Baru

Bahkan, berkat makna bersejarah dan estetika indah mereka, hanok telah menjadi tren di tahun-tahun belakangan ini, dengan banyaknya generasi muda membeli dan merenovasi strukturnya dengan bahan-bahan ramah lingkungan dan awet.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Bukchon telah menjadi atraksi favorit pemuda-pemudi trendi Korea. Untuk memenuhi kepentingan pengunjung-pengunjung ini, para pengusaha telah bertahun-tahun membuka sejumlah restoran fine dining, penginapan yang nyaman, galeri seni yang menarik dan butik-butik kelas atas di seluruh wilayahnya, banyak di antaranya bertempatkan di hanok-hanok yang telah direnovasi. Belum lagi, banyak hanok yang sudah ada telah dibuka sebagai museum dan lokakarya kebudayaan untuk para seniman yang mempraktikkan karya-karya tradisional, memelihara sejarah yang kaya dari distrik tersebut.

Meskipun begitu, pesona asli dari Bukchon ada di gang-gang kecilnya, yang berliku dan berbelok di antara hanok-hanoknya yang berumur namun masih ditinggali, di mana aktivitas sehari-hari berperan dalam jalurnya. Di sini, ibu-ibu rumah tangga menggantung cucian mereka dan menjemur cabai di bawah matahari. Anak-anak bermain petak umpet, mengintip di sudut-sudut jalanan kecil ini. Para orang tua mengawasi, bercengkerama bersama. Bagi para pengunjung, gang-gang Bukchon memberikan pemandangan menarik akan kehidupan normal orang-orang Korea.

Kini, Bukchon disukai oleh warga lokal dan turis-turis semacamnya. Dan, berkat suasana uniknya, tercipta dari kesenjangan dari suasana lama dan barunya, Bukchon pasti akan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.

————————————————————————————————————————————

Informasi mengenai Tur ini, Silakan kontak Worldlinks America, Los Angeles (La Habra): 562-691-1318, San Francisco 415 242 8195 , Sales@WorldlinksAmerica.com.

Ingin mendapatkan Info Tur Terkini di Worldlinks America lewat Email atau WA, silakan daftar di www.TurDuniaGratis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here