Di jantung kota Kyoto ada distrik Gion, yang terkenal dengan hiburan dan seni tradisionalnya.

Gion adalah distrik hiburan tradisional yang terletak di sebelah utara dan selatan jalan Shijo dan membentang dari sungai Kamo-gawa di sebelah barat sampai kuil Yasaka-jinja di timur. Semula, kelenteng ini bernama Kelenteng Gion, dan kawasan hiburan yang dibangun disini bertujuan menyediakan makanan dan minuman kepada rombongan peziarah yang datang ke sini.

Kemudian, seiring makin terkenalnya drama Kabuki di pinggiran barat distrik Gion, hiburan-hiburan baru dikembangkan untuk memanjakan pengunjung teater. Begitulah, Gion pun menjadi terkenal sebagai distrik geisha paling terkenal. Dimana-mana dapat ditemui bar, restoran dan kedai teh tradisional. Setelah senja, atmosfir di sini terasa meriah. Lentera-lentera mulai menyala dan para geisha pemagang bergegas menuju tempat perjanjian mereka. Tetapi jangan salah, di siang hari juga banyak yang bisa disaksikan. Mari berjalan-jalan menjelajahi kuil, kelenteng dan situs-situs bersejarah di jalan-jalan Gion yang permai.

Teater Kabuki Minamiza

kabuki minamizaPerjalanan kita dimulai dengan mengarah ke timur di jalan Shijo-dori dari Stasiun Gion-Shijo. Di seberang jalan Kawabata-dori, di pojok tenggara Shijo di belakang kedai mie, duduk manis teater Minamiza yang megah.

Minamiza memang menyuguhkan beragam pertunjukan teater, tapi yang paling terkenal adalah kabuki. Teater bergenre drama yang berwarna-warni ini lahir dan besar di Kyoto sejak abad ke 17. Dahulu, Minamiza adalah satu dari tujuh teater bergenre drama tersebut. Enam lainnya sudah tenggelam ditelan zaman, tapi Kabuki masih bertahan di Minamiza. Bagian depan gedung teater ini penuh hiasan dan bagian atapnya runcing. Meski teaternya telah berdiri sejak awal 1600 an, bangunan yang sekarang dipakai didirikan tahun 1929.

MeyamiJizo

MeyamiJizoMenuju ke arah timur, ada kuil kecil bernama Chugen-ji di samping kanan kita. Anda harus memperhatikan baik-baik atau Anda akan melewatkannya. Kuil ini juga dikenal dengan nama MeyamiJizo, karena ada patung Jizo yang berdiri di dalamnya.

Jizo merupakan tokoh suci agama Budha, atau bodhisattva. Patung biarawan berwajah ramah dalam balutan kain merah ini dapat dilihat di banyak kuil dan pinggir-pinggir jalan di seluruh Jepang. Jizo yang ada di dalam Chugen-ji adalah pahlawan super sekaligus dukun.

Menurut kisah, saat banjir melanda tahun 1228, sungai Kamo-gawa meluap sampai membahayakan nyawa dan usaha penduduk sekitar. Mereka pun berdoa kepada Jizo dan hujan berhenti. Saksi mata menyebutkan bahwa Jizo turun tangan menolong warga dari luapan air. Entah kisah ini nyata atau tidak, sejak saat itu patung itu dikenal dengan nama AmeyamaJizo atau Jizo Sang Penghenti Hujan. Kemudian hari, patung itu dianggap punya kekuatan untuk menyembuhkan penyakit mata warga, dan julukan Meyami alias “penyembuh mata”-pun disematkan ke Jizo.

Kita hela nafas dulu. Di kuil MeyamiJizo yang hening ini, kita menyepi sejenak dari keramaian Shijo.

Hanami-koji

Hanami-kojiKe arah timur, beberapa blok dari kuil Chugen-ji, ada jalan setapak Hanami-koji atau “jalan pandang bunga” yang membelah Shijo dari utara ke selatan. Ini adalah jalan paling terkenal di Gion. Di selatan Shijo, jalan ini masih terpelihara dengan baik. Di kiri kanannya terdapat rumah-rumah teh tradisional atau chaya. Di pojok tenggara Shijo dan Hanami-koji ada rumah teh berdinding merah bernama IchirikiChaya.

IchirikiChaya berumur lebih dari 300 tahun dan sejak dulu dikenal sebagai bangunan kelas atas yang menawarkan hiburan geisha kepada tokoh-tokoh bisnis dan politik paling berpengaruh. Hanya yang diundang yang bisa menikmatinya. Rumah the ini terkenal dengan sejarah dan eksklusifitasnya. Pada abad 19, para prajurit samurai revolusioner berkumpul di sini membuat rencana menjatuhkan pemerintahan shogun. Pada abad 18, rumah teah Ichiriki memainkan peran penting dalam kisah balas dendam samurai yang legendaris.

Kisah 47 Ronin

47 roninKisah 47 ronin adalah salah satu cerita paling termasyhur di Jepang yang telah dikisahkan berulang-ulang dalam karya sastra, teater kabuki, dan film. Yang paling luar biasa dari kisah legendaris tentang kesetiaan dan intrik ini adalah bahwa ia adalah kisah nyata. Bermula di Kuil Edo di 1701, terjadi bentrokan antara dua bangsawan yang cepat naik pitam yaitu Kira Yoshinaka dan Asano Naganori. Kira Yoshinaka berkali-kali menghina Asano sehingga Asano naik pitam, menghunus pedangnya dan berusaha membunuh Kira. Dia tidak berhasil. Serangan seperti ini tidak dibolehkan aturan pada saat itu, sehingga Asano diperintahkan untuk melakukan ritual bunuh diri atau seppuku dan meninggal. 47 pengikut Asano pun menjadi samurai tak bertuan (ronin) dan bersumpah balas dendam kepada Kira. Kisah ini pun menjadi semakin menarik.
Para ronin yang cerdik itu tahu bahwa mata-mata dan pejabat pemerintahan di bawah Kira akan mengawasi gerak-gerik mereka. Jadi, mereka membaur di masyarakat dan menemukan pencahariaan baru. Ada yang menjadi biarawan, ada yang menjadi pedagang. Pemimpin mereka, Oishi Kuranosuke, pindah ke Kyoto dan menjadi pelanggan setia rumah teh Ichiriki. Dia berpura-pura menjadi seorang pemabuk yang gila judi, wanita, dan lagu. Padahal sebenarnya dia sedang merencanakan sesuatu.

Setelah dua tahun membaur, musuh-musuhnya yakin sepenuhnya bahwa Oishi tidak punya maksud jahat, dan Oishi pun menyelinap kembali ke Edo. Di sinilah ke-47 ronin berkumpul kembali dan menyerang kediaman Kira, membunuh Kira dan meninggalkan kepalanya di kuburan Asano. Singkat cerita, ke-47 ronin tersebut melakukan ritual bunuh diri juga karena telah melanggar larangan balas dendam. Namun, ketenaran mereka dan sekaligus ketenaran rumah teh Ichiriki makin bertambah dengan diulang-ulangnya kisah ini.

Pojok Gion

Gion CornerMari kita langsung lewati Hanami-koji di selatan Ichiriki Chaya sampai ke teater Gion Kobu Kaburenjo atau juga dikenal sebagai Pojok Gion.
Di bulan April dan Oktober, para geisha distrik ini tampil dalam acara tari Miyako Odori. Sepanjang tahun, wisatawan juga dapat menikmati suguhan kebudayaan tradisional, dengan upacara penyajian the, rangkaian bunga, tari geisha dan musik klasik Jepang.

Kelenteng Yasui Kompira-gu

Di ujung Hanami-koji kita ambil kiri dan sekitar satu blok di sebelah timur dapat kita lihat gerbang kelenteng toori yang terbuat dari batu di sebelah kanan kita. Ini adalah jalan masuk ke Kuil Yasui Kompira-gu.
Fitur utama kelenteng ini adalah sebuah batu keramat yang berlubang di tengahnya dan konon dapat memutuskan hubungan buruk dalam hidup dan menyambung hubungan baik. Untuk membangkitkan kekuatan batu ini dan mulai menjalin hubungan baik, pertama-tama Anda berdoa di ruang doa utama, lalu tulislah keinginan Anda di selembar kertas khusus (bisa dibeli di kuil). Pegang dan pikirkan permohonan Anda, dan lewati lubang yang ada di batu dua kali, bolak-balik. Setelah melakukan ritual yang melambangkan kelahiran kembali ini, tempelkanlah permohonan Anda di batu. Di sini, banyak orang lajang yang menginginkan keajaiban dalam kehidupan cinta mereka. Selain itu, batu ini juga dipercaya dapat memutus kebiasaan jelek seperti merokok, minum alkohol dan berjudi.

Kuil Kennin-ji

Kuil Kennin-jiSekarang, marilah kita kembali ke arah kedatangan kita tadi, yaitu di ujung selatan Hanami-koji. Di sini, ada jalan masuk ke kompleks kuil yang megah bernama Kennin-ji. Kuil ini bermula tahun 1202 dan merupakan kuil Zen tertua di Kyoto. Namun, seperti banyak kuil kayu lainnya di Kyoto, kuil ini telah terbakar beberapa kali, jadi bangunan yang sekarang baru berdiri selama 250 tahun. Kita boleh menelusuri sebagian besar kompleks kuil ini tanpa dipungut biaya, tapi ada beberapa kuil kecil yang tertutup bagi wisatawan. Selain itu, untuk memasuki bangunan-bangunan utamanya (Hojo dan Hatto), Anda harus mengeluarkan biaya yang tidak terlalu besar.

Kennin-ji didirikan oleh Myoan Eisai (juga dipanggil Yosai), yaitu seorang biksu Budha yang sangat berpengaruh. Eisai dua kali mengunjungi China di abad 12, dan membawa pulang dua hal yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan Jepang, yaitu aliran Zen dan juga teh. Eisai semangat ingin memasyarakatkan khasiat teh bagi kesehatan. Dalam benaknya, teh akan membantu biarawan-biawarannya untuk tetap terbangun saat melakukan meditasi zazen yang panjang. Karenanya, kebanyakan tanaman pagar tanaman yang ada di kompleks Kennin-ji adalah pohon teh. Di sudut tenggara kompleks, Anda dapat temukan monumen batu yang merupakan penghormatan atas impor teh yang dilakukan oleh Eisai.

Kelenteng Ebisu-jinja

Kelenteng Ebisu-jinjaKeluar dari kompleks Kennin-ji dari arah barat, kita sampai ke jalan Yamato-Oji. Terus saja ke arah selatan hingga kita temukan kelenteng kecil sebagai penghormatan pada Ebisu, yaitu dewa kemujuran dan kemakmuran.

Meski Kelenteng Ebisu berasal dari kepercayaan Shinto, ia memiliki kaitan kuat dengan Kennin-ji yang merupakan situs agama Budha. Menurut legenda, pendiri Kennin-ji, Eisai, sedang dalam perjalanan pulang dari China saat kapal yang dia tumpangi terkena badai besar. Takut kapalnya akan tenggelam, Eisai memohon pada Ebisu (yang merangkap sebagai dewa pelindung penjelajahan lautan). Badai pun cepat berlalu. Saat Eisai membangun Kennin-ji, dia juga berterima kasih kepada Ebisu atas kepulangannya dengan selamat ke Jepang. Rasa terima kasih ini diwujudkan dengan membangun kelenteng sebagai penghormatan atas dewa Ebisu. Mungkin terdengar aneh ketika Eisai menghormati agama lain dengan cara seperti ini. Tetapi di Jepang, agama Shinto dan Budha tidak terpisah satu sama lain dan banyak juga orang yang beribadah dengan tradisi kedua agama tersebut.

Shimbashi

ShimbashiDi selatan Shinmonzen, dari timur ke barat terdapat Jalan Shimbashi-dori, yang bisa jadi merupakan jalan tercantik di seluruh Gion. Jalan setapak berubin ini di kiri kanannya terdapat bangunan-bangunan tradisional dan pohon-pohon willow dan berada di sepanjang tepian kanal Shirakawa. Momen tercantiknya adalah saat musim bunga sakura, tetapi di musim lain pun Shimbashi tetaplah tempat yang cocok sekali untuk jalan-jalan di siang maupun malam hari.

Di tepi kanal ada batu yang berukirkan sebuah puisi oleh almarhum Isamu Yoshii, seorang pujangga kesohor. Monumen ini berdiri di tempat dimana sebuah rumah teh dulunya berada, yaitu tepat di atas kanal, jadi wisatawan yang menginap dapat mendengar suara air di bawah mereka. Isamu Yoshii sangat dicintai di Gion, dan sekali dalam setahun pada tanggal 8 November diadakan upacara untuk mengenangnya dan para geisha menabur bunga di depan batu ini.

————————————————————————————————————————————

Informasi mengenai Tur ini, Silakan kontak Worldlinks America, Los Angeles (La Habra): 562-691-1318 , San Francisco 415 242 8195 , Sales@WorldlinksAmerica.com.

Ingin mendapatkan Info Tur Terkini di Worldlinks America lewat Email atau WA, silakan daftar di www.TurDuniaGratis.com

SHARE
Previous articlePanduan Berbelanja di Tokyo
Next articlePINE TREE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here