Jejuu adalah pulau gunung berapi terbesar (73km x 31 km) di sebelah selatan semenanjung Korea dan merupakan daerah kunjungan wisata yang digemari wisatawan domestik maupun mancanegara dengan banyaknya resor-resor pinggir pantai, pemandangan gunung berapi, serta alamnya yang indah. Jeju dikenal sebagai “surga bulan madu” Korea, mirip seperti Hawaii. Di sana banyak terdapat resor ataupun hotel dan padang golf serta motel dan bumi perkemahan. Jeju menjadi tuan rumah bagi jutaan wisatawan domestik maupun warga negara tiap tahun.

Pulau nan cantik ini, ketika tiba musim semi dengan bunga-bunga forsythia dan sakura semakin menambah daya tariknya.

Jeju kadang juga disebut pulau Samdado (삼다도) yang secara harfiah berarti tiga hal yang berjumlah banyak, yaitu angin, bebatuan, dan wanita. Lokasi geografis Jeju memang membuatnya berangin. Angin di Jeju dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik di rumah-rumah. “Bebatuan” merujuk pada terbentuknya pulau Jeju akibat semburan lava dari Hallasan. Asal tahu saja, sembilan persen permukaan Jeju adalah batu basal. Batu adalah bahan utama bangunan-bangunan yang memisahkan suatu desa dengan desa lainnya dan bahan utama dari batu nisan. “Wanita” merujuk pada wanita-wanita zaman dahulu yang belajar menyelam demi mendapatkan gurita, kerang, cumi dan rumput laut untuk memberi makan keluarga saat kaum pria tersesat di laut selama bertahun-tahun.

Kisah tentang “wanita” ini cukup menarik. Alkisah, banyak pria yang tersesat di laut dan para wanita terpaksa mencari nafkah sendiri. Sejak sebelum abad 17, para perempuan memberanikan diri melaut dan menjadi pencari nafkah keluarga dengan memanen kerang, rumput laut dan sebagainya. Mereka menyelam dengan semacam snorkel tapi tanpa tabung udara karena mereka telah belajar menahan nafas untuk waktu lama. Bak ikan duyung (Hanyeo), wanita-wanita ini pun menjadi dihormati, sehingga budaya setempat menjadi matriarkal; kaum pria kedapatan peran mengasuh anak dan berbelanja. Hal ini cukup signifikan di Korea yang teramat patriarkal sesuai dengan ajaran Konfusius. Warga setempat berseloroh: “Di Jeju, kalau yang lahir bayi perempuan maka kami berpesta babi panggang; tapi kalau lahir bayi laki-laki, kami tendang dia.”
Para wanita Haenyeo berperan aktif dalam pergerakan menentang Jepang di masa penjajahan, dan mereka masih mencari nafkah hingga sekarang. Tercatat pada tahun 2014 ada 4500 Haenyeo, tapi sebagian besar berumur di atas 60 tahun! Gambar di atas menunjukkan wanita-wanita penyelam yang kami temui di pantai timur.

Tapi, pria tidak mau kalah. Pulau ini penuh dengan patung laki-laki bertutup kepala seperti kupluk. Patung-patung ini adalah Dolhareubang (돌하르방) yang secara harfiah berarti “patung batu kakek tua”. Bentuk patung-patung ini seolah sebagai simbol alat kelamin laki-laki, dan merupakan cara laki-laki menyeimbangkan ketimpangan gender di pulau tersebut.

———————————————————————————————————————————-

Informasi mengenai Tur ini, Silakan kontak Worldlinks America, Los Angeles (La Habra): 562-691-1318 , San Francisco 415 242 8195 , Sales@WorldlinksAmerica.com.

Ingin mendapatkan Info Tur Terkini di Worldlinks America lewat Email atau WA, silakan daftar di www.TurDuniaGratis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here