Terletak 63 km dari Seoul di tengah-tengah Sungai Han, pulau Nami tampak seperti daun yang mengambang di atas Danau Cheongpyung. Ada lebih dari 300 jenis pohon dan 2 juta wisatawan mengunjungi pulau ini tiap tahunnya. Di antara mereka ada 200 ribu wisatawan manca negara dari seluruh penjuru dunia – India, Thailand, Singapura, Taiwan, Jepang dan China. Pulau istimewa ini bernama pulau Nami.

Istimewanya, pulau Nami adalah tujuan yang cocok untuk musim dingin maupun panas. Memang, pemandangannya agak berbeda untuk tiap musim berbeda, tapi sama indahnya. Setelah sampai di sini, dibutuhkan visa atau tiket untuk naik feri menyeberangi perairan menuju pulau ini. Untuk mereka yang suka ekstrim juga bisa naik zip wire dari pulau utama ke pulau Nami.

Pulau Nami luasnya 460 ribu meter persegi dengan keliling 6 km. Nama pulau ini berasal dari Jenderal Nami, yang hidup dari 1441 sampai 1468. Ia menjadi jenderal pada umur yang masih muda yaitu 17 tahun di bawah kekuasaan Raja Sejo. Pada umur 26 dia menjadi Panglima Perang setelah menunjukkan keberanian dan kepiawaian menumpas Kerusuhan Yi Si-Ae dan menaklukkan Gyeonju. Namun, umurnya tidak panjang karena dia difitnah telah melakukan pengkhianatan terhadap Raja Yejong sehingga dihukum mati. Kuburannya tidak diketahui persis, tapi ada gundukan batu di pulau Nami yang diyakini warga setempat sebagai kuburannya. Mereka percaya bahwa siapapun yang mengambil batu dari tempat ini akan membawa nasib buruk bagi keluarganya. Monumen Jenderal Nami bisa langsung terlihat setelah turun dari feri dan berjalan menuju taman di pulau ini.

Tahun 2001, pulau Nami dipakai sebagai lokasi utama serial televisi “Winter Sonata” yang populer di berbagai negara. Di pulau Nami ada jejak-jejak peninggalan tokoh pria maupun wanita serial ini. Sejak saat itu, pulau Nami menjadi tempat yang identik dengan cinta dan romansa untuk semua umur.

Di jalan setapak bersisi pohon yang terlihat di serial Winter Sonata, terdapat tontonan dan panggung dan wahana. Tetapi selain di jalan ini, pulau Nami sebenarnya agak sunyi. Ada beberapa tanah lapang yang bisa untuk permainan apapun yang Anda suka, dan ada jalan-jalan setapak menuju taman-taman hiburan. Ada banyak bangku dan meja piknik di mana-mana untuk menikmati keindahan. Juga banyak burung, bebek dan burung unta serta kelinci dan banyak lagi satwa yang bisa Anda temukan saat menjelajahi pulau ini.

Hanya butuh beberapa jam untuk mengitari pulau ini. Seharian di sini dapat dinikmati dengan mengagumi pemandangan, bisa pula dengan mendayung sampan sewaan, bisa pula dengan bermain frisbee. Makanan khas daerah ini adalah dalkgalbi, atau ayam goreng oseng pedas, dan banyak restoran di sekitar pangkalan feri menawarkan menu ini. Dalkgalbi berbahan ayam, kol, sambal cabai merah pedas, lontong dan ubi yang dioseng langsung di meja restoran. Ini adalah favorit penulis dan harus Anda coba saat mengunjungi daerah Chuncheon.

Sejak Maret 2006, pulau Nami mendeklarasikan kemerdekaan kebudayaannya sebagai “Republik Naminara”. Tentunya bukan republik sungguhan, tetapi hanyalah negara dongeng, dan ini menjadikannya tujuan wisata yang unik. Republik Naminara juga memiliki lagu kebangsaan, bendera, mata uang, perangko, kartu telepon dan paspor sendiri.

Mengadopsi tulisan China, Republik Naminara memiliki sistem penulisan tersendiri yang tertulis di atas kertas yang terbuat dari bunga-bunga liar. Wisatawan dapat mengalami sensasi negara baru di dalam Korea.

Di pulau Nami, banyak orang asing yang tinggal di Korea menikmati piknik sambil mempromosikan budaya dan kesenian mereka lewat hari-hari nasional. India, Indonesia, Singapura, Perancis, Denmark, Jepang, China, Serbia, Mesir, Ekuador dan Filipina telah berbagi kebahagiaan dengan wisatawan dengan menggelar hari nasional mereka.

Banyak bahan dasar dekorasi pulau Nami yang berasal dari bahan daur ulang. Sampah, botol bekas, kaleng dan bangku usang disulap menjadi barang seni lewat sentuhan kreatif seniman-seniman. Pulau Nami menjadi tempat untuk organisasi-organisasi masyarakat serta seniman-seniman internasional yang peduli lingkungan. Wisatawan juga dapat menikmati dan mempelajari kebudayaan baru di balai UNICEF dimana ada penggalangan dana untuk anak-anak yang membutuhkan, sekolah lingkungan, pusat kesenian hijau dan studio seni dan kerajinan untuk barang-barang kaca dan keramik.

Di pulau ini, ada sebuah hotel yang memiliki 45 kamar dan 10 pondok. Hotel ini juga dekorasinya memakai bahan daur ulang. Semua pesawat televisi di sini telah dihilangkan dan digantikan dengan buku-buku sehingga pengunjung dapat menikmati lingkungan alami sambil membaca karya tulis. Saking banyaknya buku, bahkan di kamar mandi dan di bangku-bangku, Pulau Nami dikenal sebagai “perpustakaan alam”.

Di malam hari, semua lampu dimatikan untuk mereka yang bermeditasi dengan suara alam.

Di bawah sinar bintang dan rembulan, harmoni antara manusia dengan alam pun dapat tercipta.

Demikianlah cerita tentang pulau Nami, sebuah negara dongeng di Korea dimana kicauan burung, suara gemericik air dan hembusan angin dan nafas manusia semuanya menjadi satu, di mana kedamaian hati dapat dicapai dengan memandang kabut dan sungai.

————————————————————————————————————————————-

Informasi mengenai Tur ini, Silakan kontak Worldlinks America, Los Angeles (La Habra): 562-691-1318, San Francisco 415 242 8195 , Sales@WorldlinksAmerica.com.

Ingin mendapatkan Info Tur Terkini di Worldlinks America lewat Email atau WA, silakan daftar di www.TurDuniaGratis.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here